Team menyalurkan bantuan ke Dusun Bango
Putat Selopamioro
Imogiri Bantul, hujan yang mengguyur Jogja beberapa hari kemarin membuat banjir dan longsor di beberapa daerah Bantul salah satunya lokasi yang kami kunjungi.
program ini merupakan program untuk Orang Tua Siswa guna memperlancar bacaan dan menambah hafalan Al-Qur’an, Kelas Tahsin dan Tahfidz ini Gratis yang diadakan setiap hari Jumat pukul 09.00-11.00 di Basment Masjid Abu Bakar, Kelas Tahsin ini menggunakan metode Al-Karim yaitu metode cara membaca Al-Quran yang di kembangkan oleh Team Guru Al-Qur’an Se Konsorsium Yayasan Mulia, metode ini juga di ajarkan ke siswa se Konsorsium Yayasan Mulia
SOSIAL DAN DAKWAH KONSORSIUM YAYASAN MULIA
TKIT Muadz Bin Jabal, SDIT Luqman Al Hakim dan SMPIT – SMAIT Abu Bakar,
membuka kesempatan bagi Bpk/Ibu Donatur yang ingin ikut berpartisipasi membantu saudara kita yang terdampak bencana di Banten dan Lampung.
Semoga dengan memudahkan urusan sesama maka Allah mudahkan urusan kita.
đ°Dana yang terkumpul
Akan disalurkan kepada JARINGAN SEKOLAH ISLAM TERPADU INDONESIA perwakilan Banten
__________
Salurkan infaq anda untuk bantu saudara kita di Banten dan Lampung dalam program Peduli Bencana melalui :
Bank Syariah Mandiri
SOSDAK MUADZ BIN JABAL 7108744175
SOSDAK LUQMAN AL HAKIM 7108743071
atau
datang langsung ke BMT BRS #101.006157 an SOSDAK PEDULI BENCANA
Atau melalui wali kelas ananda
Atau melalui kantor SOSIAL DAN DAKWAH hari senin – jumat (ketika aktif KBM) Basement Masjid Abu Bakar
Kompleks SMPIT ABU BAKAR
Jl. Veteran Gg. Bekisar No. 716 Q Pandeyan Umbulharjo Yogyakarta
0274-381006
__________
â Penghimpunan donasi sampai 31 Januari 2019
——————————————–
Memudahkan Saudaramu
Dimudahkan Urusanmu
mari memudahkan urusan sesama
Call center, Jemput dan konfirmasi donasi
Ust Ma’ruf
0819 0402 5538
Hari ini dipertemukan oleh wali murid Bu Erni beliau
sekaligus ummahat yang luar biyasah, anaknya ada 6 suami beliau meninggal 4 tahun yang lalu, rumahnya di perumnas balaroa, ketika gempa terjadi beliau masih jemput beberapa anaknya, rumahya bergeser beberapa ratus meter, 4 hari setelah gempa rumahnya bersih tak tersisa karena dijarah, hanya bisa menyelamatkan motornya itupun dibantu relawan… kini beliau dan anak2nya mengontrak dibantu teman2 di Palu, beliau menceritakan di hari pertama gempa beliau mimpi bertemu alm suami, seblumnya belum pernah, pesan dari suaminya diminta bersabar dalam mimpinya, di di kontrakan dia memulai dari Nol teringat 20 tahun yang lalu ketika habis menika dengan suaminya belum punya apa2
Penyaluran bantuan
gempa dan sunami palu kemarin
menjadi sesuatu yang special/berkesan sekali bagi kami tim yang terjun ke lapangan. Betapa tidak , ternyata kita bertepatan dengan peristiwa banjir bandang di daerah bangga kabupaten sigi. Sehingga bantuan kita, kita salurkan ke titik pengungsi yang sangat membutuhkan. Mereka sudah menjadi korban gempa, menjadi korban banjir bandang lagi. Kalau di awal-awal, hari pertama, kedua dan seterusnya paska gempa dan sunami kemarin kita belum bisa kesana, maka untuk banjir bandang ini kita hari pertama bisa menembus daerah tersebut. Banjir bandang tersebut terjadi pada malam harinya, ke esokan hari kita mendapat berita dan siang hari sampai malam kita menyalurkan bantuan kelokasi utama banjir bandang.
Rencana awal penyaluran bantuan ke pengungsi hari ke dua, namun karena ada berita banjir bandang maka rencana kita rubah. Hari pertama kita penyaluran bantuan kepengungsi dan hari ke dua kita menyalurkan bantuan ke SIT yang ada di palu. Ini pengalaman yang sangat berkesan bagi tim yang ada di lapangan.
Pengiriman bantuan ke lokasi banjir bandang ini bersamaan dengan banjir bandang susulan yang sebelumnya tidak kita perkirakan. Sehingga sempat tertahan di sana. Menjelang sampai lokasi pengungsian, kita antri untuk masuk lokasi utama pengungsian korban banjir. Karena jalan baru berusaha untuk di bukak dengan alat berat. Saatnya untuk jalan ternyata ada informasi tanda-tanda akan nada banjir susulan. Kita tetap terus masuk dengan melewati jalur utama banjir bandang, dan Alhamdulillah berhasil. Pemandangan yang kami peroleh saat masuk lokasi : Rumah-rumah warga yang tertimbun lumpur mulai dari ketinggian separoh rumah sampai atab. Jalan-jalan putus. Pohon-pohon dari bukit yang hanyut. Warga-warga yang mendadak mengungsi ke perbukitan dengan kondisi yang memprihatinkan. Tenda kurang, becek, banyak ilalang, makanan terbatas, air bersih untuk minum minim, tempat untuk kebutuhan MCK sangat jauh dari kelayakan, udara dingin, hujan, ternak-ternak yang bingung mau di ungsikan ke mana, dan lain sebagainya. Setelah kami selesai menurunkan barang bantuan ternyata banjir bandang itu pun tiba dengan suara yang sangat deras sekali.
Banyaknya pengungsi banjir bandang, membutuhkan banyaknya bantuan dari segala elemen masyaraakat yang ada. Alhamdulillah bantuan kita sangat berharga buat mereka walau kalau melihat untuk kecukupan pengungsi tentu masih kurang. Sekecil apapun bantuan Insya Allah sangat bermanfaat.
Begitulah kisah singkatnya. Kita meyakini waktu penyaluran bantuan ini adalah waktu terbaik menurut Allah SWT. Pas ada bencana lagi.
Maâruf, 22 november 2018. Cacatan perjalanan.
Dalam rangkaian misi kemanusiaan kami menyalurkan
bantuan gempa dan sunami di palu, ada sebuah kisah perjuangan dari seorang bocah kecil kelas 4 SDIT Bina Insan yang saat itu kami kunjungi. Di malam hari selepas sholat isak kami berkunjung kurang lebih satu jam untuk menyalurkan bantuan korban gempa dan berniat untuk mendengarkan kisah langsung dari bocah kecil yang bernama Iftitah. Secara pribadi saya penasaran akan kisah yang sebelumnya dari pengurus JSIT palu (ustadz juweni) menyampaikan kepada kami tentang bagaimana ia dalam menyelamatkan dirinya dari terjangan sunami dengan begitu besar menghempaskan tubuh dan membawa tubuhnya terombang ambing di laut.
Sesampainya di rumah, kami menyampaikan maksud kedatangan kami untuk menyalurkan bantuan dan ingin mendengarkan kisah pribadinya yang orang lain takjub akan kejadian itu. Anaknya periang, senyam-senyum menyambut kami dengan senyumannya khas itu. Ia pun lalu bercerita tentang kisah gempa dan sunami saat itu. Saat itu Iftitah dan keluarga sedang siap-siap untuk berjaualan bakso di tepi pantai palu yang menjadi pusat terjadina sunami palu. Ayah, mama, dan beserta adiknya yang berusia 5 tahun. Saat itu bertepatan dengan perayaan hari jadi kota palu. Saat menyiapkan barang dagangannya tiba-tiba mama Iftitah berkeinginan untuk pulang kerumah dulu karena masih ada beberapa pekerjaan di rumah yang belum selesai. Tinggallah saat itu Iftitah, ayah dan adiknya yang berusia 5 tahun. Seketika itu terjadilah bencana besar yang tidak di sangka-sangka sebelumnya. Terjadilah gempa yang sangat besar dengan kekuatan lebih dari 7 SR. Ayah iftitah dengan segera memeluk Iftitah dan adiknya untuk memberikan perlindungan pada ke dua bocah itu. Namun ternyata tak di sangka oleh ayah Iftitah, ada gulungan air yang besar mendekati pantai palu dengan begitu cepatnya. Ayah Iftitah kaget dan sambil berteriak â Ya Allah, sunami. Ya Allah, sunami. Dan ia pun bertakbir, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbarâ. Saat itulah sunami menerjang tanpa menyisakan waktu sedikitpun untuk menyelamatkan diri. Jarak gempa dan sunami begitu pendeknya hanya beberapa menit saja. Sunami menghempaskan tubuh ayah Iftitah dan sekaligus menghempaskan juga ke dua anaknya. Lepas sudah dari pelukan ayah Iftitah. Tubuh Iftitah terhempas gelombang ke darat, lalu tertarik kembali ke laut dengan terombang ambing ombak di laut. Ia sadar, ia tidak pingsan. Ia sadar saat itu sedang dalam bencana. Ia berusaha untuk menyelamatkan dirinya, ia raih kayu (bambu) yang terbawa ombak. Berhasil namun lepas lagi. Ia berusaha untuk meraih barang-barang yang ada di sekitarnya untuk menyelamatkan diri agar tidak tenggelam. Ia terus terombang-ambing gelombang air laut. Ia berusaha lagi meraih papan yang terapung sambil dengan berenang. Dalam usahanya untuk menyelamatkan diri, timbulah perasaan kalau harus mati saat itu ia rela/ikhlas. Ia terombang ambing cukup lama, kurang lebih 3 jam menurut pengakuannya. Alhamdulillah, akhirnya ia bisa selamat atas pertolongan Allah dengan ikhtiar berusaha berenang. Ayah dan adiknya entah kemana, sampai sekarang belum ada kabar dari keberadaan ayah dan adiknya.
Setelah selamat dari sunami, di malam yang gelap gulita penuh dengan ketidak pastian, rasa takut yang mencekam, warga yang hilir mudik histeris mencari saudara yang hilang, mayat-mayat berserakan, Iftitah berusaha mencari bantuan dengan cara menyapa dan minta tolong. Ada orang yang membantu ia, membawa iftitah ke tempat yang lebih aman/pengungsian. Ia sendiri tanpa ayah, mama dan adiknya. Ia mencari-cari ayah, mama dan adiknya.
Setelah mendengar adanya berita sunami di pantai, hati mama Iftitah sontak kaget dan langsung pergi kepantai untuk mencari suami dan anak-anak dengan hati yang remuk redam. Setiap orang ia temui dengan harapan bisa ketemu suami dan anak-anaknya. Setiap mayat yang ia temui ia lihat, ia singkap penutup wajahnya, apakah termasuk suami dan anak-anaknya. Harapan tak sesuai kenyataan. Tubuh yang semakin lemas kehabisan tenaga, akhirnya mama Iftitah di ajak pulang oleh relawan setempat, menunda pencarian. Di minta menunggu besok harinya. Penantian semalam yang terasa lama sekali. Di ke esokan harinya ia mendapatkan kabar bahwa putrinya selamat dan ada dilokasi pengungsian. Sontak saat itu harapan tumbuh kembali. Ia langsung menuju lokasi yang di kabarkan itu. Dengan rasa haru yag sangat, ia peluk anaknya. Dilihatlah mukanya, rambutnya, punggungnya, tangannya, kakinya untuk memastikan bahwa ia benar-benar adalah putrinya. Ia peluk lagi dengan bahagianya. Rasa optimisme pun tumbuh kembali, yang semula ia sudah merasa putus asa. Ia optimis kembali akan keberadaan suami dan anak yang paling kecil.
Ia bersihkan rambut putrinya, ia ambili daun-daun yang ada di kepala putrinya. Ia bersyukur Allah masih mengembalikan putrinya dengan selamat tanpa adanya luka yang berat. Ia masih punya harapan untuk suami dan sikecil nya yang sampai hari ini belum ada kabarnya.
Dari kisah inilah banyak hikmah yang bisa kita petik. Iftitah adalah anak yang hebat, kuat mentalnya dan perjuangannya luarbiasa. Bagaimana ia berjuang untuk menyelamatkan dirinya yang terombang ambing di laut selama 3 jam lamanya. Betapa ia juga punya rasa kepasrahan kepada Allah SWT yang kuat apabila akhirnya saat itu ia harus mati. Ia anak yang tabah. Di luar nalar normal anak pada umumnya. Justru ia memotivasi agar mamanya jangan bersedih mengingat suami dan si kecil yang belum ketemu sampai saat ini. Ia ingat betul ayah dan adiknya. Saat kami tanya tentang ayah dan adiknya yang belum ketemu, ia terdiam seketika. Iftitah adalah anak yang sayang sama ayah dan adiknya yang telah mendahului. Kehidupan terus berjalan. Kenyataan harus di terima dan di hadapi. Harapan tak sesuai dengan kenyataan. Kehendak Allah lah yang kekal abadi. Semoga Iftitah, mamanya dan masyarakat palu yang kehilangan keluarga di beri kesabaran dan ketabahan oleh Allah SWT. Sekian dulu.
Maâruf. Yogyakarta 21 November 2018. Allah Maha Besar.
Salah satu lokasi di palu
yang kami kunjungi adalah daerah petobo dan balaroa,
yang dalam pemberitaan viral tentang peristiwa likuifasi. Secara pribadi, sejak awal terjadinya bencana gempa dan sunami palu tak henti-hentinya mengikuti perkembangan berita, termasuk vidio-vidio yang ada di youtube. Apalagi ada vidio yang menceritakan adanya tower yang bergerak pindah tempat sejauh ratusan meter, bahkan kilo meter. Pemberitaan itu semakin mempuat penasaran akan daerah tersebut. Apakah seheboh yang diberitakan atau tidak.
Dihari kedua Alhamdulillah kami berkesempatan mengunjungi beberapa daerah yang di landa likuifasi, di antaranya petobo dan balaroa. Selain tempat yang lain. Di pagi hari itu pun ustadz Juweni mengantarkan kami ke lokasi sebelum berkeliling ke sekolah IT di Palu. Kunjungan pagi hari ke petobo dan sorenya ke balaroa. Dengan perjalanan kurang lebih 45 menit kami sampai lokasi petobo yang ternyata banyak dikunjungi masyarakat untuk melihatnya. Saat kami parkir dan berjalan kaki kurang lebih 500 meter menuju lokasi utama likuifasi, kamipun disuguhi dengan pemandangan yang membuat hati termenung dalam. Patahan tahah (jalan) atau tanah yang turun dengan sangat mengaga membuat kami harus berhati-hati untuk menuruninya. Tanah/jalan yang turun kisaran 3 meter, 4 meter dan bahkan ada yang lebih dalam lagi membuat hati ini berjuta rasa. Tak henti-hentinya untuk memujiNya. Tanah yang turun dan bangunan kira kanan jalan yang runtuh. Sesampainya di lokasi utama likuifasi hati kami dibuat tak karuhan rasanya. Masya Allah. Sebuah daerah yang luasnya satu desa lenyap begitu saja dalam hitungan yang singkat. Menurut ustadz Juweni, tanah itu turun dalam, bergerak, bergeser, terus berputar-putar (bagaikan di blender) setelah itu tanah dibalik dengan segala macam benda yang ada di atasnya tenggelam di dalam tanah, termasuk ribuan jiwa warga yang ada. Saat itu kejadian setelah gempa sore hari atau saat maghrib atau setelah maghrib. Dimana para warga kebanyakan sudah di rumah semua. Pulang kerja, pulang sekolah dan persiapan sholat maghrib. Kata warga yang selamat, kalau kita menggali tanah lebih dari 5 meter maka kita akan menemukan rumah-rumah yang terpendam. Yang menyayat hati lagi adalah disaat kita ke luar dari petobo terus masuk lagi melalu pintu lain yang mana di ujung lokasi likuifasi, di sana tercium bau yang sangat menyengat sekali. Yaitu bau amis bangkai, dan itu bangkai manusia menurut keterangan. Di duga di situ di dalam tanah terjadi penumpukan mayat warga. Di ujung daerah likuifasi tersebut adalah gundukan yang sangat tinggi sekali, yang mana sebelumnya adalah dataran.
Menurut warga kejadian likuifasi menjadikan suasana petobo dan balaroa menjadi sangat menakutkan. Semua histeris dan saling ketakutan. Teriakan, tangisan dan teriakan takbir.
Pengalaman yang berharga. Hanya ucapan : Masya Allah dan Allahuakbar. Semuanya ingat Allah. Ingat akan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.
Maâruf, 21 november 2018. Petobo, balaroa
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Uang sebesar Rp. 153.397.900
Dari donasi uang yang terkumpul tersebut Bantuan yang akan diberikan adalah :