Salah satu lokasi di palu
yang kami kunjungi adalah daerah petobo dan balaroa,
yang dalam pemberitaan viral tentang peristiwa likuifasi. Secara pribadi, sejak awal terjadinya bencana gempa dan sunami palu tak henti-hentinya mengikuti perkembangan berita, termasuk vidio-vidio yang ada di youtube. Apalagi ada vidio yang menceritakan adanya tower yang bergerak pindah tempat sejauh ratusan meter, bahkan kilo meter. Pemberitaan itu semakin mempuat penasaran akan daerah tersebut. Apakah seheboh yang diberitakan atau tidak.
Dihari kedua Alhamdulillah kami berkesempatan mengunjungi beberapa daerah yang di landa likuifasi, di antaranya petobo dan balaroa. Selain tempat yang lain. Di pagi hari itu pun ustadz Juweni mengantarkan kami ke lokasi sebelum berkeliling ke sekolah IT di Palu. Kunjungan pagi hari ke petobo dan sorenya ke balaroa. Dengan perjalanan kurang lebih 45 menit kami sampai lokasi petobo yang ternyata banyak dikunjungi masyarakat untuk melihatnya. Saat kami parkir dan berjalan kaki kurang lebih 500 meter menuju lokasi utama likuifasi, kamipun disuguhi dengan pemandangan yang membuat hati termenung dalam. Patahan tahah (jalan) atau tanah yang turun dengan sangat mengaga membuat kami harus berhati-hati untuk menuruninya. Tanah/jalan yang turun kisaran 3 meter, 4 meter dan bahkan ada yang lebih dalam lagi membuat hati ini berjuta rasa. Tak henti-hentinya untuk memujiNya. Tanah yang turun dan bangunan kira kanan jalan yang runtuh. Sesampainya di lokasi utama likuifasi hati kami dibuat tak karuhan rasanya. Masya Allah. Sebuah daerah yang luasnya satu desa lenyap begitu saja dalam hitungan yang singkat. Menurut ustadz Juweni, tanah itu turun dalam, bergerak, bergeser, terus berputar-putar (bagaikan di blender) setelah itu tanah dibalik dengan segala macam benda yang ada di atasnya tenggelam di dalam tanah, termasuk ribuan jiwa warga yang ada. Saat itu kejadian setelah gempa sore hari atau saat maghrib atau setelah maghrib. Dimana para warga kebanyakan sudah di rumah semua. Pulang kerja, pulang sekolah dan persiapan sholat maghrib. Kata warga yang selamat, kalau kita menggali tanah lebih dari 5 meter maka kita akan menemukan rumah-rumah yang terpendam. Yang menyayat hati lagi adalah disaat kita ke luar dari petobo terus masuk lagi melalu pintu lain yang mana di ujung lokasi likuifasi, di sana tercium bau yang sangat menyengat sekali. Yaitu bau amis bangkai, dan itu bangkai manusia menurut keterangan. Di duga di situ di dalam tanah terjadi penumpukan mayat warga. Di ujung daerah likuifasi tersebut adalah gundukan yang sangat tinggi sekali, yang mana sebelumnya adalah dataran.
Menurut warga kejadian likuifasi menjadikan suasana petobo dan balaroa menjadi sangat menakutkan. Semua histeris dan saling ketakutan. Teriakan, tangisan dan teriakan takbir.
Pengalaman yang berharga. Hanya ucapan : Masya Allah dan Allahuakbar. Semuanya ingat Allah. Ingat akan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.
Ma’ruf, 21 november 2018. Petobo, balaroa


Tinggalkan Balasan