Bismillahirrohmaanirrohiim.“Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan maghfiroh. Bulan yang paling mulia di sisi Allah.
Hari harinya adalah hari hari yang paling
utama malam-malamnya adalah malam yangg paling utama,
jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan olehNya…..”
Inilah kalimat pembuka khotbah Rosululloh ketika meyambut bulan Ramadhan.sebuah pernyataan tentang betapa agungnya bulan Rammadha.bulan yang kedatangannya membawa berkah, rahmat dan maghfiroh. Pantaslah kiranya kenapa para sahabat Rasululloh selalu gembira menuggu kedatanganya dan bersedih hingga menangis ketika hedak ditinggalkan. Sebuah situasi yang bertolak belakang dengan kebanyakan umat sekarang. Bagaimanakah dengan kita?
Tentu saja kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas yang Allah datangkan hanya sekali dalam setahun ini. Sukses Ramadhan musti kita raihbersama keluarga. Setiap orang dalam keluarga kita musti meraih hadiah besar yang dijanjikan Allah SWT akan melejitkan prestasi pribadi hingga menjadi ‘juara’, yang dibanggakan bukan hanya oleh penduduk dunia tapi juga oleh penduduk langit. Yakni ‘juara kehidupan, hamba yang selalu mengenakan mahkota ketakwaan.
Untuk itulah disain Romadhan bersama Keluarga harus dipersiapkan. Karena impian besar musykil menjadi kenyataan tanpa adanya perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang sungguh-sungguh dan penuh dengan kesabaran.
Menjemput Tamu Agung.
Seperti anak-anak mejemput bapak ibunya dari bepergian jauh, jemputlah Romadhan dengan penuh harapan dan kegembiraan. Banyak orang melupakan hal ini. Mereka lewati hari-hari menjelang Ramadhan dengan datar-datar saja. Tidak ada heboh-hebohnya, tidak ada istimewanya, tahu-tahu Ramadhan sudah tiba. Padahal kesuksesan Ramadhan dimjla dari bagaimana kita mennyambutnya. untuk itu beberapa hal harus dilakukan:
a. Menggambarkan keagungan Ramadhan.
Menggambarkan keagungan bulan Ramadhan sangat penting, agar rasa penasaran ingin segera berjumpa tumbuh kuat pada jiwa anak kita. Kita mesti menggambarkan sejelas jelasnya kepada anak sosok tamu agung ‘Ramadhan’. Apa kesukaannya (amalan yang harus kita lakukann), apa hadiah yang dibawanya (keutamaan dan pahala yang dijanjikan Allah dan RasulNya) dan apa pantangannnnya (amalan yang harus dihindarkan). Kapan dia akan datang dan sampai kapan dia akan bersama kita.
Sangat bagus jika dalam penggambarannya, Keagungan Ramadhan direfleksikan dalam realiitas kehidupan anak. Sehinggga sentuhan psikologisnya lebih kuat. Misalnya penjelasan tentang keutamaan sodaqoh, direfllekksikan dengan menceritakan betapa susahnya saudara atau tetangga yang miskin. sekarang harga apa -apa mahal semenara penghasilan bapak ibunya tidak seberapa. Pasti akan senang jika ketika ramadhan nanti, kita datang ke rumahnya sambil membawa beras dan lauk untuk berbuka. Jika kita lakukan hal demikian (membahagiakan tetangga) Allah janjikan akan memasukkan kita ke dalam surga. Lalu kita bacakan ayat yang menggambarkan keadaan surga, misal QS Ar Rohman, Al Waqi’ah dlll.
b. Merencanakkan amalan.
Rencana Penyambutan juga harus dibuat sempurna. Persiapan harus teliti. Perlengkapan, tempat dan rencanakan kegiatan secara detail harus dipastikan. Utuk itu, ajaklah anak-anak dan seluruh anggota keluarga sejak paling tidak satu bulan sebelum Ramadhan tiba untuk menyusun agenda Ramadhan Keluarga. Kuncinya; Hindarkan formal dan paksaan, pastikan target. Dalam suasana yang sante dan gembira. sambil rihlah ke pantai, atau sekedar makan dengan menu istimewa di hari libur. Pancinglah anak-anak agar mengungkapkan keinginanya disaat ramadhan tiba. Amalan apa yang akan dikerjakan; berapa kali akan khatamkan Al Qur’an, berapa ayat akan menambahkan hafalan Al Qur’an, kemana akan silaturami, kepada siapa akan berbagi, di mana akan shalat tarawih, menu apa yang diinginkan untuk makan sahur dan buka puasa, dsb.
Untuk membangkitkan semangat, sangat baik anda janjikan sejumlah hadiah untuk setiap pencapaian target, tentu saja dengan menjelaskan hadiah sebagai rasa syukuur orang tua karena anaknnya mennjadi Shalih. Misalnya seratus ribu untuk sekali khatam Al Qur’an, dua pulih lima ribu untuk satu ayat hafalan Al Qur’an dsb.
c. Mengkompromikan agenda.
Mengungkapkan keinginan belumlah cukup. Keinginan harus disertai dengan rencana agenda. Ada sejumlah agenda yang bisa dijalankan secara priadi, tapi ada agenda yag harus dijalankan secara bersama dalam keluarga. Disinilah orang tua harus mampu mengkompromikan agar sukses Ramadhan dicapai keluarga. Banyak orang tua gagal melewati fase ini. Dengan berbagai alasan ; tuntutan pekerjaan, tugas da’wah atau keumatan dsb. Padahal sebenarnya hanya satu sebabnya ; tidak menjadikan keluarga sebagai fokus sukses ramadhan. Padahal jika keluarga menjadi fokus sukses ramadhan, titik kompromi pasti akan dah didapatkan. Bukankan Allah SWT berrfirman “… sesugguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bersunggub-sungguh di jalanNya dalam barisan (kebersamaan) yang rapih, mereka tersusun seperti bagunan yang kokoh” ( QS: As Shaf )
Jadi untuk mengkomromikan agenda, hal utama yang harus kita lakukan adalah menjadikan Keluarga sebagai Fokus Sukses Ramadhan.
d. Konsisten Melaksanakan Agenda.
Hal lain yang juga sangat menentukan keberhasilan sebuah rencana adalah konsisten dalam mejalankan agenda. Karena itulah setelah sejumlah agenda ramadhan ditetapkan, kita harus konsisten menjalankan. Tentu saja ini bukan perkara mudah. karena sering situasi berubah tidak sesuai dengan bayangan ketika agenda ditetapkan. Untuk mengatasi situasi seperti demikian, ada dua hal yang harus kita lakukan : 1. Agenda dibuat sefleksibel mungkin. 2. Perubahan agenda harus dibicarakan dan sepakati oleh seluruh anggota keluarga. Tidak boleh ada seorangpun yang secara sepihak meninggalkan atau merubah agenda keluarga. Jika kedua hal ini dilakukan, insyAllah seluruh agenda akan berjalan lanca. Kalaupun ada perubahan, akan menjadi agenda baru yang disepakati bersama dan membawa hikmah kebersamaan dalam keluarga.
e. Mensyukuri Kesuksesan.
Hari raya ‘Idul Fitri. Inilah hari yang meperlihatkan kesuksesan setiap orang dalam menjalani bulan Ramadhan. Apakah dirinya telah betul – betul kembali kedalam fitrahnya sebagai hamba yang berserah diri kepada Allah SWT, yang Allah selalu ada di dalam jiwanya, yang selalu merasa bersama Allah, yang di dalam hatinya ada perasaan ‘Takut’ akan siksa Allah, sehingga berusaha selalu meningalkan setiap laranganNya, dan ada “harapan’ yang kuat untuk mendapatkan rahmat Allah SWT, sehingga selalu bersemangat menjalankan perintahNya.
Atau tetap dalam keadaan semulanya sebagai hamba yang ‘lalai’, hamba yang merindu pujian manusia sehingga selalu berusaha memamerkan dan membanggakan ‘kesuksesan’ dunianya; Ironinya dalam masyarakat Indonesia suasana hari raya ‘Idul Fitri justru seperti ajang pembuktian ‘kegagalan’ Ramadhan. Dimana segala rupa keduniaan di pamerkan bahkan kemaksiatanpun seperti menemukan ruang kebebasannya setelah satu bulan ditinggalkan. Pakaian, makanan, hiburan diadakan secara berlebihan. Seolah setiap orang ingin mempertontonkan ‘kesuksesan’ hidupnya.
Jadi sungguh sangat ironi. Dan kita tidak boleh terjebak dalam situasi yang sangat menyedihkan ini. Sukses Ramadhan, harus terus mempertahankan. Karena tabiat juara bukanlah memamerkan tapi mensyukuri kesuksesan.
Jadi setelah Ramadhan berakhir, syukurilah kesuksesan dengan menambah amallan. Ajaklah keluarga untuk menyambung silaturahmi ke sanak saudara dan handai tolan, berbagi untuk meningkatkan kasih sayang dan tadabur alam untuk menambah keimanan. Dan jangan lupa, setiap janji yang pernah diucapkan harus dilaksanakan. Hadiah untuk setiap capaian target mutsi segera dibefrikan. Jka perlu ditambahkan.
Wallahua’lam… Selamat menjadi juara, selamat meraih sukses Ramadhan bersama keluarga.


Tinggalkan Balasan