Sosdak

Kategori: Artikel

  • Buletin Sosial Dan Dakwah Edisi Kedua

    Bismillahirrohmaanirrohiim.“Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan maghfiroh. Bulan yang paling mulia di sisi Allah.
    Hari harinya adalah hari  hari yang paling
    utama malam-malamnya adalah malam yangg paling utama,
    jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama inilah bulan ketika kamu  diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan olehNya…..”

    Inilah kalimat pembuka khotbah Rosululloh ketika meyambut bulan Ramadhan.sebuah pernyataan tentang betapa agungnya bulan Rammadha.bulan yang kedatangannya membawa berkah, rahmat dan maghfiroh. Pantaslah kiranya kenapa para sahabat Rasululloh selalu gembira menuggu kedatanganya dan bersedih hingga menangis ketika hedak ditinggalkan. Sebuah situasi yang bertolak belakang dengan kebanyakan umat sekarang. Bagaimanakah dengan kita?
    Tentu saja kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas yang Allah datangkan hanya sekali dalam setahun ini. Sukses Ramadhan musti kita raihbersama keluarga. Setiap orang dalam keluarga kita musti meraih hadiah besar yang dijanjikan Allah SWT akan melejitkan prestasi pribadi hingga menjadi ‘juara’,  yang dibanggakan bukan hanya oleh penduduk dunia tapi juga oleh penduduk langit. Yakni ‘juara kehidupan, hamba yang selalu mengenakan mahkota ketakwaan.
    Untuk itulah disain Romadhan bersama Keluarga harus dipersiapkan. Karena impian besar musykil menjadi kenyataan tanpa adanya perencanaan yang  matang dan pelaksanaan yang sungguh-sungguh dan penuh dengan kesabaran.
    Menjemput Tamu Agung.
    Seperti anak-anak mejemput bapak ibunya dari bepergian jauh, jemputlah Romadhan dengan penuh harapan dan kegembiraan. Banyak orang  melupakan hal ini. Mereka lewati hari-hari menjelang Ramadhan dengan datar-datar saja. Tidak ada heboh-hebohnya, tidak ada istimewanya, tahu-tahu Ramadhan sudah tiba. Padahal kesuksesan Ramadhan dimjla dari bagaimana kita mennyambutnya. untuk itu beberapa hal harus dilakukan:
    a.       Menggambarkan keagungan Ramadhan.
    Menggambarkan keagungan bulan Ramadhan sangat penting, agar rasa penasaran ingin  segera berjumpa  tumbuh kuat pada jiwa anak kita. Kita mesti menggambarkan sejelas jelasnya kepada anak sosok tamu agung ‘Ramadhan’. Apa kesukaannya (amalan yang harus kita lakukann), apa hadiah yang dibawanya (keutamaan dan pahala yang dijanjikan Allah dan RasulNya) dan apa pantangannnnya (amalan yang harus dihindarkan). Kapan dia akan datang dan sampai kapan dia akan bersama kita.
    Sangat bagus jika dalam  penggambarannya, Keagungan Ramadhan direfleksikan dalam realiitas kehidupan anak. Sehinggga sentuhan  psikologisnya lebih kuat. Misalnya penjelasan tentang keutamaan sodaqoh, direfllekksikan dengan menceritakan betapa susahnya saudara atau tetangga yang miskin. sekarang harga apa -apa mahal semenara penghasilan bapak ibunya tidak seberapa. Pasti akan senang jika ketika ramadhan nanti, kita datang ke rumahnya sambil membawa beras dan lauk untuk berbuka. Jika kita lakukan hal demikian (membahagiakan tetangga) Allah janjikan akan memasukkan kita ke dalam surga. Lalu kita bacakan ayat yang menggambarkan keadaan  surga, misal QS Ar Rohman, Al Waqi’ah dlll.
    b.      Merencanakkan amalan.
    Rencana Penyambutan juga harus dibuat sempurna. Persiapan harus teliti. Perlengkapan, tempat dan rencanakan kegiatan secara detail harus dipastikan. Utuk itu, ajaklah anak-anak dan seluruh anggota keluarga sejak  paling tidak satu  bulan sebelum Ramadhan tiba untuk menyusun agenda Ramadhan Keluarga. Kuncinya; Hindarkan formal dan paksaan, pastikan target. Dalam suasana yang sante dan gembira. sambil rihlah ke pantai, atau sekedar makan dengan menu istimewa di hari libur. Pancinglah  anak-anak agar mengungkapkan keinginanya disaat ramadhan tiba. Amalan apa yang akan dikerjakan; berapa kali akan khatamkan Al Qur’an, berapa ayat akan menambahkan hafalan Al Qur’an, kemana akan silaturami, kepada siapa akan berbagi, di mana akan shalat tarawih, menu apa yang diinginkan untuk makan sahur dan buka puasa, dsb.
    Untuk membangkitkan semangat, sangat baik anda janjikan sejumlah hadiah untuk setiap pencapaian target, tentu saja dengan menjelaskan hadiah sebagai rasa syukuur orang tua karena anaknnya  mennjadi  Shalih. Misalnya seratus ribu untuk sekali khatam Al Qur’an, dua pulih lima ribu untuk satu ayat hafalan Al Qur’an dsb.
    c.       Mengkompromikan agenda.
    Mengungkapkan keinginan belumlah cukup. Keinginan harus disertai dengan rencana agenda. Ada sejumlah agenda yang bisa dijalankan secara priadi, tapi ada agenda yag harus dijalankan secara bersama dalam keluarga. Disinilah orang tua harus mampu mengkompromikan agar sukses Ramadhan dicapai keluarga. Banyak orang tua gagal melewati fase ini. Dengan berbagai alasan ; tuntutan pekerjaan, tugas da’wah atau keumatan dsb. Padahal sebenarnya hanya satu sebabnya ; tidak menjadikan keluarga sebagai  fokus sukses ramadhan. Padahal jika keluarga menjadi fokus sukses ramadhan, titik kompromi pasti akan dah didapatkan. Bukankan Allah SWT berrfirman “… sesugguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bersunggub-sungguh di jalanNya dalam barisan (kebersamaan) yang rapih, mereka tersusun seperti bagunan yang kokoh” ( QS: As Shaf  )          
    Jadi untuk mengkomromikan agenda, hal utama yang harus kita lakukan adalah menjadikan  Keluarga sebagai Fokus Sukses Ramadhan.
    d.      Konsisten Melaksanakan Agenda.
    Hal lain yang juga sangat menentukan keberhasilan sebuah rencana adalah konsisten dalam mejalankan agenda. Karena itulah setelah sejumlah agenda ramadhan ditetapkan, kita harus  konsisten menjalankan.  Tentu saja ini bukan perkara mudah. karena sering situasi berubah tidak sesuai dengan bayangan ketika agenda ditetapkan. Untuk mengatasi situasi seperti demikian, ada dua hal yang harus kita lakukan : 1. Agenda dibuat sefleksibel mungkin. 2. Perubahan agenda harus dibicarakan dan sepakati oleh seluruh anggota keluarga. Tidak boleh ada seorangpun yang secara sepihak  meninggalkan atau merubah agenda keluarga. Jika kedua hal ini dilakukan, insyAllah seluruh agenda akan berjalan lanca. Kalaupun ada perubahan, akan menjadi agenda baru yang disepakati bersama dan membawa hikmah  kebersamaan dalam keluarga.
    e.      Mensyukuri Kesuksesan.
    Hari raya ‘Idul Fitri. Inilah hari yang meperlihatkan kesuksesan setiap orang dalam menjalani bulan Ramadhan. Apakah dirinya telah   betul –  betul kembali kedalam fitrahnya sebagai hamba yang berserah diri kepada Allah SWT, yang Allah selalu ada di dalam jiwanya, yang selalu merasa bersama Allah, yang di dalam hatinya ada perasaan ‘Takut’ akan  siksa Allah, sehingga berusaha selalu meningalkan setiap laranganNya, dan ada “harapan’ yang kuat untuk mendapatkan rahmat Allah SWT, sehingga selalu bersemangat menjalankan perintahNya.
    Atau tetap dalam keadaan semulanya sebagai hamba yang ‘lalai’, hamba yang  merindu pujian manusia sehingga selalu berusaha memamerkan dan membanggakan ‘kesuksesan’ dunianya; Ironinya dalam masyarakat Indonesia suasana  hari raya ‘Idul Fitri justru seperti ajang pembuktian ‘kegagalan’ Ramadhan. Dimana segala rupa keduniaan di pamerkan bahkan kemaksiatanpun seperti menemukan ruang kebebasannya setelah satu bulan ditinggalkan. Pakaian, makanan, hiburan diadakan secara berlebihan. Seolah setiap orang ingin mempertontonkan ‘kesuksesan’ hidupnya.
    Jadi sungguh sangat ironi. Dan kita tidak boleh terjebak dalam situasi yang sangat menyedihkan ini. Sukses Ramadhan, harus terus mempertahankan. Karena tabiat juara bukanlah memamerkan tapi mensyukuri kesuksesan.
    Jadi setelah Ramadhan berakhir, syukurilah kesuksesan dengan menambah amallan. Ajaklah keluarga untuk menyambung silaturahmi ke sanak saudara dan handai tolan, berbagi untuk meningkatkan kasih sayang dan  tadabur alam untuk menambah keimanan. Dan jangan lupa, setiap janji yang pernah diucapkan harus dilaksanakan. Hadiah untuk setiap capaian target mutsi segera dibefrikan. Jka perlu ditambahkan.      
    Wallahua’lam… Selamat menjadi juara, selamat meraih sukses Ramadhan bersama keluarga.
  • Sedekah Indah Seorang Dokter


    Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Di satu tempat di Jakarta ada rumah yang bisa dibilang cukup mewah. Rumah itu adalah kediaman keluarga dr. Juni Tjahjati. Selain sebagai tempat tinggal, rumah itu sehari-hari dipakai Juni sebagai tempat praktek. Banyak pasien berobat setiap hari ke sana yang kadang membuat tukang parkir harus ekstra keras mengatur
    kendaraan.

    Jika kita berdiri tepat menghadap rumah itu dari seberang jalan tampaklah dua buah hiasan berbentuk pagar kecil bersusun di atap rumah. Di bagian tengah pagar besi yang tidak memagari apapun itu terpampang lambang cinta berbentuk hati dicat warna emas. Lambang itu seperti ingin berkata bahwa semua aktivitas dalam rumah dan tempat praktek itu didasari oleh cinta.
    Tanpa ragu, dokter itu membantu tetangganya yang dioperasi di rumah sakit. Semua biaya ia tanggung. Hidupnya pun tampak berkah dan berlimpah rezeki.
    Beberapa tahun lalu, seorang laki-laki bernama Mustofa datang ke rumah itu. Ia menggigil kedinginan. Ia baru pulang dari Bogor, memenuhi undangan kawannya untuk memancing. Sebuah kecelakaan kecil terjadi: kakinya tertusuk bambu.
    Mustofa adalah tetangga Juni, sehari-hari berjualan es jus sambil menjadi tukang parkir di tempat praktek itu. Seorang dokter menanganinya dengan memeriksa dan memberi obat.
    “Waktu itu dokter Juni sedang keluar negeri,” ujar Mustofa.
    Pengobatan diberikan kepada Mustofa secara cuma-cuma. Ia dapat kembali pulang dengan tenang. Tapi seminggu kemudian ia kembali datang karena ia mulai merasakan sakit yang lebih parah.
    Mustofa sulit menggerakkan mulut dan menelan makanan. Juni yang sudah pulang langsung memberi pertolongan. Bapak empat anak itu disuntik dua kali, diberi obat dan disuruh balik lagi beberapa hari kemudian. Menyadari kemungkinan Mustofa menderita tetanus, Juni melakukan operasi kecil, mengeluarkan potongan bambu kecil yang tertanam di kaki Mustofa.
    Tapi beberapa hari kemudian, Mustofa semakin parah karena racun tetanus ternyata sudah menjalar ke tubuhnya menginfeksi syaraf dan ototnya hingga kaku dan tak bisa digerakkan.
    Juni kemudian bertindak cepat dengan membawa Mustofa ke rumah sakit agar bisa dirawat dengan fasilitas lebih memadai. Ia tak bisa mengiringi tetangganya itu tapi mengontak teman-temannya yang ada di rumah sakit agar Mustofa ditangani dengan baik.
    “Jangan ditinggal sebelum Pak Mus dapat ruang inap dan ditangani dokter,” ujar Juni kepada supirnya yang mengantar.
    Mobil pun melaju ke RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo) Jakarta. Di RSCM ada suami Juni, dr. Ismail, seorang ahli Ortopedi, yang sehari-hari berpraktek dan mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
    Tapi, ternyata., RSCM tak ada ruangan kosong. Mustofa lalu dilarikan ke RS Persahabatan. Kembali tak ada ruang kosong. Ismail lalu mengontak koleganya di RS Fatmawati. Ada ruang kosong di rumah sakit itu. Mustofa langsung dibawa ke sana.
    “Sampai di sana, saya langsung disambut dokter dengan hormat. Sepertinya dokter itu teman baik dr. Juni atau suaminya, dr. Ismail,” ujar Mustofa mengenang.
    Sampai di Fatmawati Mustofa tak sadarkan diri. Ia dirawat berhari-hari di sana sampai kesadarannya pulih. Dalam sakitnya itu, Mustofa ditunggui oleh istrinya.
    Setelah beberapa hari di rumah sakit, datanglah lembar tagihan berobat. Mustofa dan istrinya terkaget-kaget, karena di situ tertera angka 13 juta rupiah. Tentu saja ia tak memiliki uang sebesar itu apalagi ia belum pulih benar. Perlu beberapa hari lagi untuk menginap agar ia bisa pulih sampai sediakala.
    Tapi, rupanya, kecemasan itu hanya terjadi sesaat saja, sebab rupanya dr. Juni sudah menangung biaya berobat Mustofa. Tak terbilang rasa terima kasih Mustofa dan istrinya. Apalagi Juni juga turut menjenguk Mustofa dan bahkan memberi istri Mustofa uang untuk pegangan selama menunggui suaminya dirawat.
    “Saya tak punya uang sepeser pun. Semua biaya ditanggung dokter Juni. Saya tak tahu berapa jumlah pastinya. Tapi kira-kira 20 juta rupiah,” ujar Mustofa mengenang sambil terharu.
    Mustofa sampai tak habis pikir kenapa ada orang sebaik itu. Ia hanya tetangga dan bukan saudara. Bisa dikatakan ia juga hidup dari dr. Juni karena ia berjualan es di depan Praktek dr.Juni, selain memarkir kendaraan. Ia tak dimintai uang sedikit pun berjualan di depan tempat praktek itu seperti yang lazim terjadi. Bahkan ia juga tak dimintai uang listrik, padahal sehari-hari ia memakai listrik untuk blender es jus.
    Saat anak nomor tiganya menderita kecelakaan, kembali Juni dengan ringan membantu Mustofa. Waktu itu, anak Mustofa tertabrak kendaraan bermotor dan kakinya patah. Kaki anak berusia 6 tahun itu diberi pen yang diukur sendiri oleh suami dr. Juni. Kembali Mustofa tak membayar sepeserpun biaya pengobatan itu karena semua ditanggung dr. Juni.
    Berkah Sedekah …
    Sekalipun menolak untuk membeberkan lebih lanjut, sedekah memang merupakan amal yang masyhur dilakukan Juni. Ini diakui pula oleh para warga di sekitar rumahnya. Tangannya begitu ringan menolong. Kadang ada kaum dhuafa yang berobat dengan membayar semampunya atau gratis sama-sekali.
    Jika melihat kehidupan Juni yang dilimpahi rezeki benarlah ungkapan al-Qur’an dalam surat al-Baqarah ayat 256 yang menyebut bahwa
    … “Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” …
    Tempat prakteknya tampak ramai, membuat rezekinya seakan tidak pernah putus. Pasien yang berobat di sana juga sangat senang karena diobati dengan penuh perhatian.
    Selain itu, Juni juga memiliki beberapa kendaraan dan perusahaan yang ia kelola di bidang kesehatan, makanan, laboratorium, penyewaan gedung, perawatan kecantikan, dan lain sebagainya.
    Dahulu, sebelum meraih semuanya, Juni malah hidup sederhana; berbisnis salon dan membuka toko sepatu karena ia merasa tak patut mencari uang berlebih dari pengabdiannya sebagai dokter.
    Satu hal yang patut dicontoh adalah Juni tampak enggan untuk menceritakan itu semua. Baginya itu hal biasa saja. “Kebetulan saya bisa membantu, ya saya bantu,” ujarnya.
    Saat masih menjadi dokter puskesmas di daearah Jawa Timur tahun 90-an, Juni juga sudah sering bersedekah. Ia bahkan pernah mengobati pasien yang memerlukan transfusi darah dengan mengambil darahnya sendiri.
    Lagi-lagi jika ada pasien yang tak mampu dan perlu dirujuk ke rumah sakit, ia bersedia mengantarkan dengan menggunakan biaya akomodasi dari dirinya sendiri.
    Menolong sepertinya sudah menjadi etika utama dokter ini. Semua hal dikebelakangkan dan keselamatan pasienlah yang diutamakan.
    “Ada perasaan lega dan senang jika pasien yang kita tolong bisa selamat, dan bisa berbagi itu merupakan satu kenikmatan sendiri,” ujar Juni.
    Tak hanya itu, Juni juga kerap mengalamatkan sedekah pada pembangunan masjid. Beberapa masjid sudah ia sumbang. Ada di antaranya yang dibangun bagi kaum pinggiran di wilayah Tebet, Jakarta Selatan.
    Banyak orang yang memiliki penghasilan besar, namun selalu merasa tidak cukup. Bahkan tidak jarang pengeluaran mereka lebih besar dari penghasilan yang didapat. Tapi itu tak berlaku jika melihat kehidupan dr. Juni. Rezeki seperti mengalir deras padanya, dari berbagai jalan, karena setiap rezeki yang ia dapatkan juga ia sedekahkan kemana-mana.
    … “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” …
    Demikian Allah berkata dalam firman-Nya (Q.s. al-An’am: 160) ..
    Jadi, sebetulnya, setiap harta yang kita sedekahkan justru akan kembali dengan berlipat ganda. Satu dikurang satu sama dengan sepuluh, bukan nol. Itulah rumus sedekah. Dengan memberi, seseorang akan mendapatkan lebih banyak, tidak berkurang atau habis.
    Subhanallah …

  • Cerita Tentang Sedekah

    Malam itu bulan bersinar terang di langit. Bintang-bintang bertaburan. Subhanallah, alangkah indahnya. Seorang lelaki bernama Karim keluar dari rumahnya. Dulu, Karim dikenal gemar melakukan perbuatan yang dilarang agama. Namun, kini dia telah insaf dan bertobat. Sekarang, dia rajin shalat berjamaah di masjid. Dia juga tidak merasa malu untuk ikut mengaji dan belajar membaca Al Quran, bersama anak-anak yang lebih muda usianya.
    Malam itu, setelah mendengar penjelasan dari imam masjid tentang keutamaan shadaqah atau sedekah, hati Karim tergerak. Imam masjid menjelaskan, jika seseorang memiliki uang seribu dirham dan ia menyedekahkan tiga puluh dirham, maka yang tiga puluh dirham itulah yang akan kekal
    dan dapat dinikmati di akhirat. Sedangkan yang sembilan ratus tujuh puluh dirham tidak membuahkan apa apa. Bahkan, uang tiga puluh dirham yang disedekahkan, akan dilipatgandakan oleh Allah sebanyak tujuh ratus kali. Sedekah juga membuat harta dan rezeki yang ada menjadi penuh berkah.
    Selama ini, Karim dikenal kaya dan kikir. Namun, sejak insaf dan tobat, dia telah berniat akan mengorbankan segala yang dimilikinya untuk memperoleh ridha Allah Swt. Sebagian hartanya telah dia rencanakan untuk disedekahkan dan diinfakkan di jalan Allah Swt.
    Dia mengarahkan langkahnya menuju ke suatu rumah. Dia telah menyiapkan kantong berisi seratus dirham untuk disedekahkan. Begitu sampai di rumah yang ditujunya, dia mengetuk pintu. Seorang lelaki berkumis tebal muncul dari dalam rumah. Setelah mengucapkan salam, dia memberikan kantong itu pada pemilik rumah, lalu mohon pamit. Kejadian itu ternyata diketahui oleh beberapa orang penduduk daerah itu.
    Pagi harinya, orang-orang di pasar ramai membicarakan apa yang dilakukan Karim tadi malam. Dua orang yang melihat Karim bersedekah berkata dengan nada mengejek, “Dasar orang tidak tahu agama, sedekah saja keliru, masak sedekah kok kepada seorang pencuri. Kalau mau sedekah itu, ya harusnya kepada orang yang baik-baik!”
    Obrolan orang di pasar itu sampai juga ke telinga Karim, ia hanya berkata dalam hati, “Alhamdullilah, telah bersedekah kepada pencuri!
    Hari berikutnya, ketika malam tiba, dia kembali keluar rumah. Dia ingin kembali bersedekah. Sama seperti malam sebelumnya, dia menyiapkan uang seratus dirham. Kali ini, dia memilih sebuah rumah di pinggir kota. Dia mengetuk pintu rumah itu. Seorang wanita membukakan pintu. Dia langsung menyerahkan sedekahnya pada perempuan itu lalu pulang.
    Pagi harinya, pasar kembali ribut. Ternyata, ada orang yang mengetahui perbuatannya tadi malam. Orang itu bercerita sinis, “Memang, Karim itu tidak jelas. Rajin pergi ke mesjid, tetapi memberi sedekah saja masih salah. Kemarin malam, dia memberi sedekah kepada seorang pencuri. Lha, tadi malam, dia memberi sedekah kepada seorang pelacur!”
    Perbincangan orang di pasar itu sampai juga ke telinganya. Karim hanya berkata lirih, “Alhamdulillah, telah bersedekah kepada seorang pelacur!”
    Malam harinya, Karim kembali keluar rumah untuk sedekah. Dia memilih rumah yang ada di dekat pasar. Setelah mengantarkan sedekahnya, dia pulang. Kali ini Karim berharap, dia tidak keliru memberikan sedekahnya.
    Pagi harinya, pasar lebih ribut dari sebelumnya. Seorang penjual daging berkata, “Nggak tahulah! Karim itu memang aneh. Mau sedekah saja kok kepada orang kaya. Padahal, orang yang miskin dan memerlukan uang untuk makan, masih banyak dan ada di mana-mana!”
    Ternyata, rumah yang didatangi Karim dan diberi sedekah tadi malam adalah rumah orang kaya. Mendengar berita dan omongan yang ada di pasar tentang kekeliruannya memberikan sedekah ia berkata, “Alhamdulillah, telah sedekah kepada pencuri, pelacur, dan orang kaya!”
    Malam harinya, ia shalat tahajud, lalu tidur. Dalam tidurnya dia bermimpi didatangi oleh seseorang yang memberi kabar kepadanya, “Sedekahmu kepada pencuri, membuat pencuri itu insaf, sehingga dia kini tidak mencuri lagi. Sedekahmu kepada pelacur, membuat wanita itu tobat dan tidak berzinah lagi, dan sedekahmu kepada orang kaya, menjadikan orang kaya tersebut sadar dan merasa malu. Kini, orang kaya yang pelit itu mau mengeluarkan zakat dan infak. Sedekahmu yang ikhlas itu diridhoi Allah Swt.”
    Setelah itu Karim semakin khusyuk beribadah dan banyak mengerjakan kebajikan. Dia sadar bahwa yang paling penting dalam ibadah adalah niat karena Allah. Bukan sekadar mengikuti perkataan orang banyak. Hanya Allah-lah yang berhak menilai, diterima atau tidaknya amal ibadah seseorang.
    Dikutip dari “Ketika cinta berbuah surga” Habiburrahman El Shirazy

  • Sedekah Dua Lembar Lima Ribuan, Kunci Sukses Orang Ini

    KISAH ini menceritakan tentang sedekah dua lembar uang lima ribuan yang dilakukan oleh seseorang dengan tulus pada saat dia sendiri sedang dalam kondisi sangat membutuhkan uang itu. Kisah yang terjadi pada masa yang namanya krisis moneter, dan dia baru saja terkena dampak krisis itu. Masa setelah lengesernya Presiden Suharto. Dimana pada saat itu perekonomian baru saja terpuruk. Pengangguran dan PHK sedang begitu gencarnya, kejahatan sedang merajalela.
    Tersebutlah sebuah keluarga dengan dua orang anak. Sang suami terpaksa berhenti dari pekerjaannya karena tempatnya bekerja (perusahaan sablon) bangkrut. Simpanannya sudah habis untuk keperluan sehari-hari. Bahkan sekarang untuk makan dan biaya sekolah anak-anaknya sang istri harus menghutang tetangganya.
    Suatu hari lelaki itu pergi keluar rumah dengan niat mencari pekerjaan. Akan tetapi hingga tengah hari tidak menghasilkan apa yang diharapkan. Ia berhenti di sebuah masjid dan menunaikan sholat dhuhur. Setelah itu dia melanjutkan perjalanan.
    Perutnya sudah sangat lapar. Dia bermaksud pergi ke warung. Tetapi niatnya digagalkan demi melihat seorang tua renta yang meminta-minta dihadapannya. Di dompetnya hanya ada dua lembar uang masing-masing lima ribuan. Satu lembar diberikannya kepada pengemis itu.
    “Ini buat makan ya pak….” Dia memberikan satu lembar uang lima ribuannya. Uang yang rencananya untuk makan siang. Uangnya tinggal tersisa lima ribu rupiah.
    Dia berpikir, sia uangnya masih cukup untuk membeli nasi. Niat yang tadi tertunda rupanya tertunda lagi karena tiba-tiba ada seorang tua renta yang mengendarai sepeda onthel (sepeda angin) terserempet mobil di depan matanya. Dia berusaha menolongnya karena mobil yang menyerempetnya melarikan diri. Sepedanya rusak.
    Dengan tulus dia membawa orang tersebut dan sepedanya ke bengkel terdekat. Lagi-lagi dia berada dalam posisi yang sangat sulit, satu sisi perut lapar dan perih tapi di sisi lain ada orang yang lebih membutuhkan. Dia harus membantu perbaikan sepeda orang tersebut karena kebetulan bapak tua tadi tidak mempunyai ongkos untuk memperbaikinya.
    Dia pulang ke rumah dengan tanpa membawa hasil apapun, melainkan perut kosong dan perih, tetapi hal itu diterima dengan lapang dada. Dia masih berharap, Allah SWT memberikan jalan baginya. Keadaan itu berjalan berbulan-bulan hingga barang-barang di rumah sudah habis terjual.
    Malam itu dia tidak bisa tidur, Pikirannya menerawang kemana-mana. Satu persatu teman-temannya sewaktu SMA dulu terlintas di benaknya. Tiba-tiba ingatanya tertahan pada teman karibnya dulu, dimanakah dia sekarang? Apakah hidunya sudah mapan? Teman karibnya itu tergolong mampu, buktinya dia sempat melanjutkan ke bangku kuliah dan dia sendiri tertahan karena keterbatasan keuangan orang tuanya waktu itu.
    Allah SWT memang Maha Besar, tanpa disangka-sangka sahabat karib yang sempat terlintas di lamunannya kemarin malam tiba-tiba bertamu kerumahnya. Belakangan diketahui teman karibnya itu sudah menjadi ketua sebuah partai di Jawa Tengah.
    Berawal dari saling menceritakan pengalaman hidupnya itu maka diapun diminta temannya itu untuk membuat umbul-umbul dan bendera dalam jumlah ribuan lembar. Jumlah yang sangat besar dibandingkan sewaktu dia masih menjadi karyawan perusahaan sablon dulu tempat bekerja.
    “Ada apakah ini?” pikirnya. “Apakah Allah SWT mendengar doa-doaku?”
    Dengan cek senilai Rp50 juta rupiah untuk modal yang diberikan teman karibnya itu, dia sendiri masih bingung cara memakainya, maklum baru sekali ini melihat yang namanya cek. Minimal kegalauanya tentang modal awal dari pesanan yang begitu banyak sudah ada jalan keluar.
    Semenjak itulah dia mulai bekerja secara mandiri. Bahkan sekarang sudah memiliki gudang dan karyawan sampai 25 orang untuk menangani bagitu banyaknya order. Ketika ada orang bertanya, apa yang menyebabkanmu menjadi sukses dalam dunia sablon? dengan sederhana dia menjawab, “Menurut saya karena dua lembar uang lima ribuan, satu lembar untuk peminta-minta yang sedang lapar dan lembar yang kedua untuk seseorang yang perlu perbaikan sepeda.”
    “Saya mengatakan itu yaa karena kenyataanya seperti itu, pada waktu itu barang-barang di rumah sudah habis dijual untuk menyambung hidup, tapi keinginan bertemu dengan sahabat karib SMA dulu kok tahu-tahu dia sudah bertandang ke rumah. Tidak ada akibat tanpa sebab. Saya yakin dengan sedekah, apalagi sedekah pada saat kita sendiri lagi susah, bersedekah ketika miskin sangat bernilai di mata Alloh SWT, tetapi bersedekah pada saat lapang seperti sekarang ini jangan ditinggalkan,” ujarnya lagi.  [santi/islampos/Dikutip dari: “Kun Fayakun”/karya: Ust. Yusuf Mansur]