Dalam rangkaian misi kemanusiaan kami menyalurkan
bantuan gempa dan sunami di palu, ada sebuah kisah perjuangan dari seorang bocah kecil kelas 4 SDIT Bina Insan yang saat itu kami kunjungi. Di malam hari selepas sholat isak kami berkunjung kurang lebih satu jam untuk menyalurkan bantuan korban gempa dan berniat untuk mendengarkan kisah langsung dari bocah kecil yang bernama Iftitah. Secara pribadi saya penasaran akan kisah yang sebelumnya dari pengurus JSIT palu (ustadz juweni) menyampaikan kepada kami tentang bagaimana ia dalam menyelamatkan dirinya dari terjangan sunami dengan begitu besar menghempaskan tubuh dan membawa tubuhnya terombang ambing di laut.
Sesampainya di rumah, kami menyampaikan maksud kedatangan kami untuk menyalurkan bantuan dan ingin mendengarkan kisah pribadinya yang orang lain takjub akan kejadian itu. Anaknya periang, senyam-senyum menyambut kami dengan senyumannya khas itu. Ia pun lalu bercerita tentang kisah gempa dan sunami saat itu. Saat itu Iftitah dan keluarga sedang siap-siap untuk berjaualan bakso di tepi pantai palu yang menjadi pusat terjadina sunami palu. Ayah, mama, dan beserta adiknya yang berusia 5 tahun. Saat itu bertepatan dengan perayaan hari jadi kota palu. Saat menyiapkan barang dagangannya tiba-tiba mama Iftitah berkeinginan untuk pulang kerumah dulu karena masih ada beberapa pekerjaan di rumah yang belum selesai. Tinggallah saat itu Iftitah, ayah dan adiknya yang berusia 5 tahun. Seketika itu terjadilah bencana besar yang tidak di sangka-sangka sebelumnya. Terjadilah gempa yang sangat besar dengan kekuatan lebih dari 7 SR. Ayah iftitah dengan segera memeluk Iftitah dan adiknya untuk memberikan perlindungan pada ke dua bocah itu. Namun ternyata tak di sangka oleh ayah Iftitah, ada gulungan air yang besar mendekati pantai palu dengan begitu cepatnya. Ayah Iftitah kaget dan sambil berteriak “ Ya Allah, sunami. Ya Allah, sunami. Dan ia pun bertakbir, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar”. Saat itulah sunami menerjang tanpa menyisakan waktu sedikitpun untuk menyelamatkan diri. Jarak gempa dan sunami begitu pendeknya hanya beberapa menit saja. Sunami menghempaskan tubuh ayah Iftitah dan sekaligus menghempaskan juga ke dua anaknya. Lepas sudah dari pelukan ayah Iftitah. Tubuh Iftitah terhempas gelombang ke darat, lalu tertarik kembali ke laut dengan terombang ambing ombak di laut. Ia sadar, ia tidak pingsan. Ia sadar saat itu sedang dalam bencana. Ia berusaha untuk menyelamatkan dirinya, ia raih kayu (bambu) yang terbawa ombak. Berhasil namun lepas lagi. Ia berusaha untuk meraih barang-barang yang ada di sekitarnya untuk menyelamatkan diri agar tidak tenggelam. Ia terus terombang-ambing gelombang air laut. Ia berusaha lagi meraih papan yang terapung sambil dengan berenang. Dalam usahanya untuk menyelamatkan diri, timbulah perasaan kalau harus mati saat itu ia rela/ikhlas. Ia terombang ambing cukup lama, kurang lebih 3 jam menurut pengakuannya. Alhamdulillah, akhirnya ia bisa selamat atas pertolongan Allah dengan ikhtiar berusaha berenang. Ayah dan adiknya entah kemana, sampai sekarang belum ada kabar dari keberadaan ayah dan adiknya.
Setelah selamat dari sunami, di malam yang gelap gulita penuh dengan ketidak pastian, rasa takut yang mencekam, warga yang hilir mudik histeris mencari saudara yang hilang, mayat-mayat berserakan, Iftitah berusaha mencari bantuan dengan cara menyapa dan minta tolong. Ada orang yang membantu ia, membawa iftitah ke tempat yang lebih aman/pengungsian. Ia sendiri tanpa ayah, mama dan adiknya. Ia mencari-cari ayah, mama dan adiknya.
Setelah mendengar adanya berita sunami di pantai, hati mama Iftitah sontak kaget dan langsung pergi kepantai untuk mencari suami dan anak-anak dengan hati yang remuk redam. Setiap orang ia temui dengan harapan bisa ketemu suami dan anak-anaknya. Setiap mayat yang ia temui ia lihat, ia singkap penutup wajahnya, apakah termasuk suami dan anak-anaknya. Harapan tak sesuai kenyataan. Tubuh yang semakin lemas kehabisan tenaga, akhirnya mama Iftitah di ajak pulang oleh relawan setempat, menunda pencarian. Di minta menunggu besok harinya. Penantian semalam yang terasa lama sekali. Di ke esokan harinya ia mendapatkan kabar bahwa putrinya selamat dan ada dilokasi pengungsian. Sontak saat itu harapan tumbuh kembali. Ia langsung menuju lokasi yang di kabarkan itu. Dengan rasa haru yag sangat, ia peluk anaknya. Dilihatlah mukanya, rambutnya, punggungnya, tangannya, kakinya untuk memastikan bahwa ia benar-benar adalah putrinya. Ia peluk lagi dengan bahagianya. Rasa optimisme pun tumbuh kembali, yang semula ia sudah merasa putus asa. Ia optimis kembali akan keberadaan suami dan anak yang paling kecil.
Ia bersihkan rambut putrinya, ia ambili daun-daun yang ada di kepala putrinya. Ia bersyukur Allah masih mengembalikan putrinya dengan selamat tanpa adanya luka yang berat. Ia masih punya harapan untuk suami dan sikecil nya yang sampai hari ini belum ada kabarnya.
Dari kisah inilah banyak hikmah yang bisa kita petik. Iftitah adalah anak yang hebat, kuat mentalnya dan perjuangannya luarbiasa. Bagaimana ia berjuang untuk menyelamatkan dirinya yang terombang ambing di laut selama 3 jam lamanya. Betapa ia juga punya rasa kepasrahan kepada Allah SWT yang kuat apabila akhirnya saat itu ia harus mati. Ia anak yang tabah. Di luar nalar normal anak pada umumnya. Justru ia memotivasi agar mamanya jangan bersedih mengingat suami dan si kecil yang belum ketemu sampai saat ini. Ia ingat betul ayah dan adiknya. Saat kami tanya tentang ayah dan adiknya yang belum ketemu, ia terdiam seketika. Iftitah adalah anak yang sayang sama ayah dan adiknya yang telah mendahului. Kehidupan terus berjalan. Kenyataan harus di terima dan di hadapi. Harapan tak sesuai dengan kenyataan. Kehendak Allah lah yang kekal abadi. Semoga Iftitah, mamanya dan masyarakat palu yang kehilangan keluarga di beri kesabaran dan ketabahan oleh Allah SWT. Sekian dulu.
Ma’ruf. Yogyakarta 21 November 2018. Allah Maha Besar.

Tinggalkan Balasan