![]() |
| Ust Muallimin Sumber https://www.hidayatullah.com |
Tulisan ust. Muallimin
(Ketua DPW Hidayatullah Papua)
Kami bukan tak mau pulang? Bukan pula kami tidak ketakutan jauh dari orang tua, setiap hari hati kami gemetar melihat keadaan yang semakin hari tambah menakutkan. Bukan kami tidak sayang orang tua ataupun sahabat yang selalu menelpon meminta kami pulang dan beranjak dari tempat ini.
Tapi kami memikirkan Islam yang bertahun-tahun dibangun dan dijuangkan ditempat ini… Anak-anak santri yang masih menjadi mutiara emas untuk Agama Islam. Jika kami harus pulang maka segala usaha itu kembali ke Nol. Masyarakat dan juga anak-anak kembali menjadi manusia awam yang tidak lagi tahu apa itu keharmonisan. Islam yang sudah dibangun dengan darah dan bahkan nyawa tidak mampu kami tinggalkan begitu saja. Ku tahu, semua orang khawatir atas kondisi kami ditempat ini. Ku tahu, mereka bilang kami tidak takut mati karena menyangka egois dan naif. Tapi inilah keadaannya, kami masih berat meninggalkan Islam ditempat pondok Pesantren Al-Istiqomah Walesi Wamena.
Kami sejujurnya ingin sekali berada di dekat orang tua, hidup tentram dan damai. Tidak berdesakan dengan ribuan manusia dan juga jauh dari ketakutan karena suara tembakan dimana-mana. Tapi kami juga tidak mampu menahan sakitnya meninggalkan anak-anak polos yang baru mengenal Isam. Mereka selalu bilang, “Ustadzah dan Ustadz jangan pulang, klo guru-guru pulang kami akan kemana??. Pasti kami akan tinggalkan shalat dan buka aurat”. Apa hendak yang akan kami lakukan jika manusia yang tidak berdosa selalu mengambil tangan kami dan memohon agar kami tidak meninggalkan tempat ini.
Bahkan masyarakat pun ikut memotivasi kami, Ustadzah jika pulang, maka Islam ini akan ikut hilang. Kami siap menjaga ustadzah dan Ustad serta guru-guru lainnya asalkan tidak meninggalkan tempat ini. Kami yang akan menjadi manusia terdepan manakala ada serangan dari luar sebelum ke Guru-guru. #Hatiku hancur dan kata-kata itu menjadi pukulan berat bagiku untk meninggalkan tempat ini. bukan penguasa dan bahkan tangan2 orang besar yang menjamin kami tapi mereka orang2 kecil yang juga takut kehilangan nyawanya namun rela korban siang dan malam menjaga kami agar tetap bertahan ditempat ini. Lantas, kami harus berbuat apa saat kondisi justru memaksa kami tetap berjuang mempertahankan Agama Islam.
Bendera Jihad itu terlalu kuat untuk ditinggalkan dan menjadi yakin ada bala tentara Allah yang akan membantu kami. Yang akan menjadikan kami tenang dan aman. Hanya kenyakinan itu yang membuat kami kuat dan tetap bertahan ditempat ini. Duri sudah biasa kami pijaki namun saat ini malah api yang menguji kami. Namun tidak ada yang mustahil bagiNya. Hanyalah kepada Allah kami yakinkan diri bahwa kami akan baik-baik sja. Dan bagi keluarga maupun saudara saat ini kami hanya butuh doa dan dukungan agar kami tidak kehilangan harapan dan kenyakinan.Allahu Akbar!!!!!!!


Tinggalkan Balasan