oleh Drs. Ery Masruri
(Ketua Yayasan Pendidikan Islam Abu Bakar)
dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda –tanda (kekuasaan Alloh) bagi orang yang berfikir. Yaitu orang-orang yang mengingat Alloh diwaktu berdiri, duduk dan ketika berbaring dan yang selalu memikirkan dalam penciptaan langit dan bumi dan mereka berseru Ya Alloh tidak ada kesalahan dalam pencitaan semua itu, maha suci Engkau maka hindarkanlah aku dari siksa api neraka”
(Qs : 3: 190)
Ilustrasi:
“Panther Hiii Gedheee”
Senin pagi di lampu merah Demangan, di sebelah kami berhenti panther HiGrade warna biru muda, Masih baru dan gagah.
“Eh mobil kita mesinnya sama lho ama Panther sebelah!”.
“iya pa Bi?” Fikar sang filosof menyaut umpan saya.
“Iya….coba aja nanti di lihat, cevrolet kan mesinnya IZUZU, Panther juga izuzu”.
“Kalo gitu mobil kita panther dong” si Ceria Zulfa berkomentar cuek.
“Lha iya, pangther Hiiii Gedee”,
“Waaaah abi..” komentar singkat si muka kucing Zahra sambil tersenyum.
“Lha iya, kalo panther kan HiGrade, kalo kita Hiiii Gedhee”.
“Bagus bi… bagus. Tulis bi di samping… yang gede” sang filosof nimbrung
“Wah malu, kayak pingin panther gak kesampaian” bidadariku akhirnya ikut juga berkomentar.
“Ya emang kepingin… gak apa-apa tho kepingin?” sang filosof nyoba bertahan
“Ya gak pa apa, tapi kan gak usah dilihatin ke orang”
“Alaaah umi gengsi” sambil tersenyum si ceria menimpali. Biasa dia emang suka ngeledek.
“Bukan… bukan gensi”.
“Terus..?”
“Yaa… doa aja, minta ma Alloh mudah- mudahan mobil kita diganti Panther…”
“Amin, amin, amin” serentak seluruh rombongan mengamini,
“Ya Alloh, jika mobil Panther lebih baik untuk keluarga kami,. Ya Alloh berilah kami rizki untuk mengganti mobil tua ini dengan Panther” sambil mengengkat tangannya, khusuk bidadariku berdo’a.
“Amin”
“Ya Alloh jika dengan mobil panther ini anak – anakku jadi lebih sholih ya Alloh, gantilah mobil ini dengan Panther ya Alloh”. doaku
“amiin”
“Ya Alloh, jika dengan Panther abi umiku jadi bahagia…. kabulkanlah doa kami ya Alloh”. Doa sang filosof
”amiin”
“ Ya Alloh lariskanlah dagangan abi umi…biar bisa beli mobil baru ya Alloh….Ya Alloh berilah kami mobil baru ya Alloh” si mungil berdoa
“amiin”
“ya Alloh, semoga kami engkau berikan mobil seperti mobil tadi ya Alloh”siceria menyambung
“amiin”
“Ara kok gak doa?”
“Ya Alloh…kabulkanlah semua permintaan kami tadi ya Alloh. Berilah kami mobil baru, bahagiakanlah abi umi, solihkanlah anak-anak abi umi ya Alloh. Amien”
“Amin”
Dan pagi itu terkuaklah rahasia hati kami. Bahwa di balik kebanggaaan naik si limou,di balik rasa syukur atas keadaan kami sehari-hari, sebenarnya tetap saja ada keinginan untuk dapat naik mobil yang lebih bagus. Karena sebenarnya kami sadar, si limou memang udah tua. Apalagi untuk ukuran komunitas sekolah anak-anak saya, yang rata-rata siswanya dari keluarga berpunya. Setiap pagi dan siang di halaman sekolah mereka selalu berderet mobil mewah yang mengantar jemput tuannya. Dan diantara deretan itu si limou parkir anggun seperti kakek-kakek duduk di antara deretan siswa SMA. Anggun berwibawa menunggu cucu kesayangannya.
Dan hebatnya, kami tidak pernah membahas masalah ini sebelumnya. Mereka sama sekali tidak pernah mengungkapkan keinghinannya. Seolah tidak peduli sama sekali dengan deretan mobil mewah yang menjemput teman-temannya. Mungkin karena mereka sudah faham dengan keadaan orang tuanya. Tepatnya dapat mensyukuri keadaan kami. Sehingga bagi mereka, dapat sekolahpun sudah sangat bersyukur. Memang kepada mereka saya selalu tekankan prinsip “Jika ingin bahagia..syukurilah keadaan kita, apapun adanya. Jangan lihat apa yang dipunya orang, karena itu hanya akan membuat persaan kita goyang. Berpikirlah apa yang dapat saya manfaatkan untuk orang lain, jangan berfikir apa yang saya dapat manfaatkan dari orang lain, pasti kita akan giat berusaha dan bahagia!”
Dan hari ini saya merasakan hasilnya. Mereka sangat dewasa. Sungguh, inilah sebenarnya kebanggaan dan kesyukuran saya. Ditengah-tengah temannya yang memiliki fasilitas wah, rasa percaya diri mereka tetap tidak goyah. Mereka tidak berkecil hati, apalagi malu. Mereka selalu ceria dan nampak bangga dengan limosin tua. Walaupun kadang ada temennya yang usil, mengolok. Seperti cerita si muka kucing siang itu:
“Bi, tadi ada temenku yang mengejek mobil kita lho”.
“Ngejek gimana ?”
“Mobil kamu antic ya ? panjaaaaaang”
“kayak gitu ya nggak ngejeek”
“ya iyalaah… orang ngomongnya sambil ketawa kok”
“Terus kamu gimana?”
“Ya aku cuek aja, aku bilang…. keren kan ? …limousiiine!”
“Terus temen kamu..”
“Ya malah ketawa”.
“Emang dia punya mobil?”
“Mobilnya bagus bi.., orang bapaknya aja pejabat”,
“Emang kalo pejabat pasti kaya?” aku memancing
“Lha iya lah, kan bisa korupsi”
“Eee enggak boleh suudlon lho…rugi.
Dia yang dapat mobilnya kamu dapat dosanya!” bidadariku,
orang paling tulus yang paling kucinta mengingatkan.
“Umi juga suudlon”
“Lho suudlon apa?”
“Lha itu bilang dia dapat mobilnya?”
“Ya maksud umi… temen kamu itu dapat naik mobil bapaknya, masalah mobilnya dari mana…umi nggak mau suudlon, klhusnuldzon aja, mungkin… bapaknya punya bisnis jadi bisa beli mobil bagus”
“Tapi kalau bisnisnya kolusi,. nyalah gunakan jabatan… yaa sama aja… haram mi!”
“Lho suudlon lagi?”
“astaghfirulloohal‘adziim. Iya..ya… Habisnya di tv gitu sih, pejabat korupsi melulu!”
“Makanya Ara yang pintar, biar bisa jadi pejabat n mbenahin negeri tercinta ini, Iinndoooneesiaaaa ! tanah airku… tumpah darahku… terpatri dalam hidupku…gebyar-gebyar di langit jinggaaaa…!” Kunyanyikan lagunya gombloh almarhum.
“Ok ok siap bi!” si muka kucing menjawab tegas. Sejak SD dia memang sudah kelihatan minatnya ke masalah-masalah sosial. Sekarang di SMP dia sangat aktif di osis khususnya untuk kegiatan sosialnya..
“Terus kalau dah jadi pejabat, si limou gimana?” saya coba menurunkan kadar politiknya. Membiasakan anak pada diskusi politik memang bagus, tapi jika tidak hati – hati justru bisa menimbulkan trauma pada jiwa anak. Sebab sudah menjadi tabiatnya, diskusi politik akan selalu mengarah pada kelemahan atau kejahatan para politisi. jadi seperti dirigen dalam orkes simponi, saya harus mengarahkan diskusi ini agar tetap dalam iramanya ; mengembangkan spriritualitas anak.
Saya memang sudah mengikat kesepakatan dengan bidadari cantik yang melahikrkan anak anak saya, untuk menggunakan setiap perbincangan; ketika mengantar sekolah, di meja makan, nonton tv dan dimanapun untuk membangun kecerdasan spiritual anak. Itulah sebabnya saya sangat suka melontarkan komentar- komentar ‘kontroversial’ kepada mereka, agar diskusi bisa terbuka. Karena saya sangat yakin, diskusi akan membuka jendela jiwa mereka. Sementara bidadariku selalu mengimbangi ‘keisengan’ saya dengan fatwa-fatwanya. Prinsip kami ; Setiap detik dari komunikasi kita dengan anak – anak adalah momentum edukative yang sangat menentukan warna dari jiwa mereka.Jadi kita harus ‘mengisi’nya.
“Wah akan aku modiv bi…. bannya ganti yang gede, bodinya aku lukis sejarah perjalanannya…jasanya ma kita…penuh bi… jadi kayak ornament berjalan gitu. Joknya bi, ini… akan aku ganti yang empuk… terus bisa diputar-putar biar bisa nyambung ma yang belakang.. jadi tempat tidur gede, untuk camping di pantai kan asyik! udah gitu.. mesinnya akan aku ganti ma mesin panther yang paling baru! biar llarinya kenceng! Sip kan bi?”
“Apa gak isrof tu?”
“Ya enggak lah mi, kalao dah jadi pejabat kan dah kaya, jadi kayak gitu itu masih sederhana… gak berlebihan, lagian yang penting kan manfaatnya buat orang lain”
“Terus pakainya kapan?”
“Ya kalo ke kantor!”
“Wah pasti seru, pejabatnya nyentrik ! perempuan cantik pake mobil antic!”
“Hahahaha…”
“katanya yang penting manfaat buat orang lain….lha kalo Cuma dipakai ke kantor…kapan manfaatnya….kalau umi kok nggak enak ya…nggaya, apalagi jadi pejabat kan harus santun ..empati ma rakyatnya yang gak punya ” bidadariku membuka fatwanya.
“lah abi – umi ghimana, rakyatnya tu udah pada kaya mi..Ara kayak gitu tu kalau udah berhasil ngebangun bangsa ini, jadi… rakyatnya dah pada kaya… malah pejabatnya yang paling miskin!…..lagian ya…kalo dijalan ketemu orang lagi jalan n searah ke kantor…atau ke mana aja…Ara ajak mii. Udah gitu …sampe di kantor…kuncinya Ara kasih ke satpmam…Ara bilang…Yang mo pake …Gratis, asal isi bensin saja ya hahahaha ”
“wah pejabat hebat !Abi setuju, rakyat harus bahagia…pejabat punya selera, si limou tetap jaya! hahahaha” kamipun tertawa semua,
Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak
oleh Drs. Ery Masruri
(Ketua Yayasan Pendidikan Islam Abu Bakar)
- Syukur, Hulu dari Kecerdasan Spiritual.
Spiritual adalah kapasitas inhern pada manusia, dimana dalam dirinya muncul dorongan (kemampuan) untuk membangun hubungan dengan seuatu di luar dirinya, yang memiliki kekuatan dan kekuasaan supra. Spiritualitas (aktualisasi spiritual) kerap muncul dalam sikap Arif; rendah hati, mau mengakui kesalahan diri sendiri, mudah minta maaf, tulus, peduli, hangat, bersemangat yang semuanya berhulu pada rasa syukur atas karunia nikmatNya.
Insan spiritual memiliki kearifan :
- kapan harus bersikap tegas dan kapan lemah lembut.,
- kapan harus bicara kapan diam,
- kapan harus menerima kapan harus menolak,
- kapan harus bersama orang lain kapan berjalan sendiri,
- kapan unjuk diri kapan berdiam diri,
- kapan harus memberi kapan tidak memberi,
- kapan harus berjuang keras kapan berlepas.
Motifasi hidupnya tidak hanya terikat pada kepentingan yang sempit dan sesaat (untuk diri sendiri di dunia ), tetapi luas dan jangka panjang bahkan jauh melampaui ruang dan waktu; untuk lingkungan, masyarakat dan kehidupan setetelah kematiannya. Diamnya bukan karena dicela dan putus asa. Aktifnya bukan karena dipuji dan dihargai. Kearifan ini secara alamiah muncul dari rasa syukurnya atas karunia nikmat tiada tara dari Yang Maha kuasa.
Saat sekarang dimana kehidupan sangat hedonist matrialistik, jiwa manusia menjadi kering dari rasa syukur. Ini karena pendidikan pada umumnya hanya berorientasi pada kecerdasan inteklektual. Sehingga outputnya (masyarakat) berkembang dengan semangat eksploitasi berlebihan dan hampir tidak memiliki kearifan kerja, budaya, sosial dan transendental. Semangat hidup dan kecerdasan intelektualnya berkembang luar biasa, tetapi sikap hidupnya menjadi maslah dalam kehidupan bersama. Selalu melihat orang lain bukan makhluk mulia yang harus dimuliakan dan partner yang harus dikuatkan, tetapi sebagai lawan yang harus dimusnahkan. Akibatnya muncullah bencana sosial hebat, seperti tawuran, pemerkosaan, perampokan, penipuan, korupsi, prostitusi dsb.
Untuk membangun kecerdasan spiritual anak, anda harus membangun rasa syukur di hatinya.
Anda pasti ngeri menyaksikan kehidupan seperti ini. Khawatir anak anda terseret dalam kehidupan yang terus berputar tanpa kearifan. Anda tidak sendiri. Bahkan semua orang tua, kecuali yang sudah betul-betul gila, mengahawatirkan hal ini. Hanya saja kenyataannya menjadi sangat ironi., walaupun rasa khawatir begitu mendalam, tetapi kebanyakan dari mereka tidak melakukan apa-apa. Bahkan tanpa sadar justru mendorong anak untuk masuk kedalamnya. Mereka mengabaikan pendidikan agama bagi anak-anaknya dan mendewakan prestasi akademika. Sangat bangga dengan nilai sepuluh untuk matematika tetapi sama sekali tidak gelisah dengan tindakan anaknya yang tidak beretika bahkan meninggalkan agama… bagaimana dengan diri anda ?
Jika anda betul-betul menginginkan anak memiliki kecerdasan spriritual, langkah pertama yang harus anda lakukan adalah mengembangkan rasa syukur. Syukur kepada Yang Maha Kuasa dan syukur kepada anda sebagai orang tua. Langkah ini sangat fundamental, karena seperti sudah saya sampaikan di atas, hulu dari kearifan adalah rasa syukur.
- Awas Terjebak Dilema semu; ‘ Syukur dan Etos’
Ada tiga pemikiran salah yang menjebak banyak orang tua dalam ‘dilema semu’ dimana rasa sukur dipertentangkan dengan etos perjuangan. Dilema semu tersebut adalah;
a. Bekerja ‘terlalu’ keras = tidak bersyukur.
Seolah-olah orang yang sangat bersemangat dalam berusaha adalah orang yang tidak bersyukur. Orang tua dengan pemikiran salah seperti ini, akan memotivasi anak dengan cara meyakinkan, bahwa tidak setiap keinginan harus diperjuangkan, karena keinginan tidak pernah ada habisnya. bahwa menikmati yang ada jauh lebih membahagiakan dari pada memperjuangkan apa yang belum ada. Orang tua yang terjebak dalam dilema ini akan menasehati dengan kata –kata yang seolah mencerdaskan siritual anak; “Hidup memang perlu berusaha, tetapi berusaha tidak perlu ‘setengah mati’ nak. jadi syukuri dan nikmati saja apa yang ada dan berusahalah ‘semampunya’. Jangan ngoyo ( jawa ; konotasi negatif untuk orang yang sangat keras dalan berusaha)”,
tetapi sesungguhnya justru sebaliknya, menumpulkan. Karena anak hanya akan berorientasi pada kenikmatan pribadi, itupun dalam perspektif yang sangat sempit, hanya menerima apa adanya. Hal ini tentu saja sangat berbahaya, bahkan untuk orang yang sudah dewasa sekalipun. Apalagi untuk anak-anak yang masa ‘perjuangannya’ masih panjang. Yang masih harus menghadapi berbagai tantangan.
untuk menumbuhkan rasa syukur, anda harus merawat akarnya, yakni kesadaran terhadap asal kenikmatan, ialah ‘kasih tak berbatas’ dari Tuhan dan dari orang tua. Batangnya, yakni kesadaran terhadap nikmat dan bagaimana sehartusnya memanfa’atkannya, serta daunya, yakni keikhlasan dan ketrampilan untuk berbagi dengan sasama.
b. Terlalu bersyukur akan menghilangkan semangat kerja.
Syukur akan menurunkan etos kerja. Banyak orang tua yang tidak sadar terperangkap dalam ‘jebakan’ ini. Mereka khawatir jika anaknya ‘terlalu’ bersyukur dengan keadaan, akan kehilangan semangat untuk berubah. Karena bersyukur akan menjadikan anak merasa sudah cukup dengan apa yang dimilikinya. Orang tua dengan pemikiran seperti ini, akan terus memotivasi anak dengan cara meyakinkan, bahwa keadaan yang ada belum seberapa dan jauh dari cukup untuk dinikmati. Dalam fikirannya, hidup ini keras, penuh persaingan. Akan menjadi bencana jika anak tidak berusaha keras untuk merubah keadaan. Sebab tidak ada yang bisa ‘menentukan’ masa depan kecuali dirinya sendiri. Orang tua yang terjebak dilema ini, ketika menasehati anaknya tidak jarang membumbui dengan cerita ‘kesuksesan’, ‘kehancuran’ dan persaingan orang-orang disekitar mereka (teman, tetangga, saudara), tentu saja dalam perspektif materi.
Bahaya dari pemikiran seperti ini adalah;
1. anak akan tumbuh dengan etos kerja tinggi tetapi dengan naluri persaingan yang mematikan.
2. anak akan tumbuh dengan jiwa yang ambisius, dan kehilangan kehangatan.
3. kepedulian terhadap lingkungan sangat rendah, karena selalu melihat orang lain sebagai lawan dan lingkungan sebagai objek yang secara materi harus diekploitasi agar dapat mengutungkan dirinya.
4. Jika ‘sukses’ akan menjadi sombong’ dan bahil, karena merasa telah berjuang sendiri. Sebaliknya jika ‘gagal’ akan cepat putus asa karena merasa terlalu banyak lawan yang selalu berusaha menghalangi usahanya.
5. anak tidak akan pernah bisa menikmati perjuangan dan hasilnya.karena selalu diburu oleh target pekerjaan dan merasa belum saatnya menikmati hasilnya.
c. Mengintimidasi anak dengan ‘syukur’ dan ‘etos’.
Diantara dua pemikiran di atas, banyak juga orang tua terutama di kalangan masyarakat religius yang sedang berkembang, mencoba bersikap moderat. Mereka berusaha menekankan aspek ‘syukur’ sambil tetap menekankan perlunya ‘perubahan’. Sebenarnya sikap ini cukup bagus, jika konsisten. Tetapi kebanyakan orang tua tidak bisa. Hal ini dikarenakan konsep dasar pemikirannya yang ambigu.
Ketika menghadapi ‘tuntutan’ anak, mereka memakai pemikiran pertama, harus bersyukur. Mereka akan memperbandingkan dengan keadaan orang lain yang jauh di bawah. Mereka mengatakan ;. “Kamu mustinya bersyukur, sudah puny… lihat, banyak orang lain yang nasibnya jauh lebih buruk dari kita. Boro-boro seperti kamu, untuk makan saja mereka susah !’
Tetapi ketika ‘menyampaikan (baca; memaksakan) kehendaknya agar anak berusaha lebih keras, mereka akan memakai pemikiran ke dua, harus berusaha keras. Mereka akan memperbandingkan dengan orang yang jauh di atasnya, dan mengatakan : “ Kamu musti berusaha lebih keras, jangan malas-malasan. Lihat tu si Rojak, sukses. Dulu tu dia Cuma anak desa, makan saja susah, tapi dia kerja keras. sekarang…sudah punya rumah sendiri, mobilnya bagus, usahanya maju. Lha kamu… malas-malasan seperti itu, kerjanya Cuma main saja, gak pernah belajar… mau jadi apa kamu!” sikap ambigu seperti ini sama berbahayanya dengan sikap pertama dan ke dua. Bahkan bisa lebih berbahaya. Karena anak akan tumbuh tanpa pegangan. Ibarat orang buta yang kehilangan tongkat. jalannya tentu sangat pelan, katena hatinya selalu ragu jangan-jangan di depannya ada sesuatu yang dapat mencelakakan dirinya.
- Rasa syukur yang membangkitkan spiritualitas.
Anda harus keluar dari dilema semu dan membangun rasa sukur anak dalam perspektif yang benar, yakni rasa syukur yang membangkitkan kearifan dan mencerdaskan spirtitual. Rasa seperti ini mengandung tiga hal;
a. muncul dari kesadaran bahwa kenikmatan yang ada diberikan oleh Yang Maha Kuasa dan rasa terima kasih kepada Orang Tua yang telah memberikan rasa kasih sayang yang tulus dan tanpa batas.
b. Tidak sekedar ucapan terima kasih, tapi harus diwujudkan dalam penghargaan kepada kenikmatan dan semangat membahagiakan sang pemberi yakni Alllah SWT dan orang tuanya.
c. Semangat memanfaatkan nikmat dan berbagi kenikmatan dengan sesama.
Menanamkan rasa syukur yag membangitkan, tidak bisa anda lakukan melaluui doktrin, tetapi harus anda ajarkan secara indah, penuh penghayatan dan dipraktekkan secara simultan dalam keseharian. Ibarat membesarkan pohon, anda tidak bisa melakukannya hanya dengan merawat akarnya , atau daunnya saja, tetapi anda harus merawat keseluruhannya secara bersama – sama; dari akar, batang dan daunnya, sehingga pohon bisa tumbuh sehat dan rindang.
Demikian juga dengan rasa syukur, untuk menumbuhkannya anda harus merawat akarnya, yakni kesadaran terhadap asal kenikmatan, ialah ‘kasih tak berbatas’ dari Tuhan dan dari orang tua. Batangnya, yakni kesadaran terhadap nikmat dan bagaimana seharusnya memanfa’atkan kenikmatan, serta daunya, yakni keikhlasan dan ketrampilan untuk berbagi dengan sasama.
4. Merawat Akar Spriritual, mengenalkan keagungan kasih sayang Illahi
Untuk merawat akar spiritual, anda harus mengenalkan keagungan kasih Illahi. Karena seperti hukum aksi-reaksi, dimana obyek yang dikenai aksi akan memberikan reaksi yang sama besar, maka jika kedalam jiwa disiramkan Cinta, dia akan memancarkan cintanya. Anda pasti bertanya, kenapa cinta Tuhan yang begitu besar belum mampu membangkitkan energi cinta pada kebanyakan jiwa manusia, sehingga kehidupan terasa semakin gersang, penuh persaingan yang saling mematikan ?
Inilah persoalannya. Manusia masa sekarang yang matrialist rasionalistik, hanya memandang kehidupan sebagai hukum alam yang sama sekali lepas dari campur tangan Tuhan, sehinngga tidak bisa merasakan kasih sayang Allloh SWT. Setiap kenikmatan dilihat sebagai keniscayaan dari usahanya. Logikanya mengatakan : “ saya dapat karena saya berusaha, jadi saya akan berusaha terus agar kenikmatan selalu jatuh ke tangan saya!”.
Jadi tugas anda sekarang adalah, mengenalkan kepada anak, bahwa setiap kenikmatan merupakan karunia dan bukti Cinta Kasih Tuhan kepada umatNya, sehingga anak setiap saat dapat merasakan sentuhan cinta kasihNya.
Banyak orang tua meninggalkan tugas ini. Bahkan para orang tua di masyarakat yang religiuspun demikian. Hal ini karena pemikiran mereka sekuler. Menjalankan agama sebagai sebuah ritual saja, yang hanya dia jalankan paling lama 5 % dari waktu hidupnya. Selebihnya (95 % ) dijalani bebas tanpa rasa keterikatan dengan Tuhan.
Anehnya mereka yakin dengan menjalankan ritual yang sangat sebentar dan sering tanpa penghayatan itu, secara otomatis akan membuat anak dapat menghayati Cinta Kasih Illahi selama hidupnya, sehingga anak akan cerdas secara spiritual. Mereka mengawasi dengan ketat bahkan memaksa anak agar menjalankan ritual agama. Setelah itu membebaskannya bahkan memaksa anak untuk mengejar dunia. Mereka katakan : sembahyang dulu, Cuma 5 menit saja kok malas.ayo sembahyang, kalau sudah kan bebas ! Tentu saja tindakan seperti ini salah besar. Karena yang lima menit tidak akan bisa mewarnai jiwanya. Bahkan jika dipaksa, anak akan merasakan ‘agama’ sebagai hambatan untuk usahanya mengejar dunia. Maka itulah sebabnya, saat sekarang banyak ironi, dimana kriminalitas banyak terjadi dimasyarakat yang religius seperti Indonesia.
Sekarang anda tahu, agar kecerdasan spiritual anak tumbuh bagus, anda harus mengenalkan keagungan cinta kasih illahi. Bukan hanya dari ritual yang harus mengikatkan hati dan pikiran anak dengan kasih Illahi. Menyadarkan mereka bahwa seluruh hidup dan sarananya ; Otaknya,Napas, pendengaran,mata, lidah, makanan, minuman, pakaian dsb adalah wujud kasih sayangNya. Bahkan tidak mungkin manusia bisa hidup tanpa karunia cinta kasihNya. Jadi kita harus menggantungkan setiap harapan kepada kasih sayangNya.
Dalam ilustrasi di atas, anda dapat melihat bagaimana saya dan istri sebagai orang tua melakukan hal ini. Ketika pada akhirnya terbuka kenyataan bahwa semua anak-anak saya,istri dan saya sendiri mempunyai keinginan yang sama untuk ganti mobil, istri saya langsung mengajak semuanya untuk berdo’a. tindakan cepat seperti ini sepertinya sepele dan mudah. Tapi jika sejak awal anak – anak tidak pernah disadarkan betapa banyak Kenikmatan Tuhan yang telah ada pada dirinya, apalagi jika anda sendiri tidak memiliki keyakinan yang kuat akan Maha Kasih Sayangnya Tuhan, akan sangat sulit melakukannya. Karena otaknya akan mengatakan ; “waah keinginan yang berlebihan”, atau ‘ ingin boleh n wajar, tapi yang tidak rasional tidak perlu dibahas!” atau “…lihat saja besok kalo saya sudah bekerja….” Atau “saya akan belajar sungguh-sungguh. besok kalo saya sudah lulus sekolah pasti saya bisa beli mobil kayak gitu…sekarang gak perlu dibahas!”
Sungguh saya sangat bersyukur hal itu tidak terjadi pada keluarga saya. Upaya saya dan istri untuk menenamkan kesadaran nikmat pada jiwa anak, hari itu telah terlihat hasilnya. Mungkin sangat sederhana, sebab itu kebanyakan orang tidak mencermati masalah ini. Tapi coba anda cermati : sikap anak saya yang tidak pernah meminta untuk ganti mobil, padahal sesungguhnya mereka sangat ingin, sikapnya yang tenang, tidak rendah diri, tidak sedih atau emosional ketika diejek oleh temannya, keceriaannya di dalam mobil, keinginannya yang tidak padam dan kesungguhannya dalam berdo’a, menjadi pertanda bahwa akar spiritual mereka telah tumbuh baik. alhamulillah, saya sangat bbersyukur. Ini sangat melegakan.
5. Kiat : Menumbuhkan rasa Syukur
A. Apa yang harus anda lakukan.
Jadi sekali lagi, untuk menumbuhkan akar spiritual anak, anda harus menumbuhkan kesadaran bahwa ‘sangat besar cinta kasih Tuhan kepada umatNya. Bahwa Tuhan telah memberikan kenikmatan yang begitu banyak. Untuk itu anda harus menyentuh jiwanya, dengan melakukan beberapa hal sebagai berikut :
Ø Memahamkan tidak hanya mendisiplinkan anak dalam ritual agama.
Mendisiplinkan anak dalam ritual agama penting. Tapi memahamkan mereka terhadap apa yang mereka lakukan jauh lebih penting
Ø Menumbuhkan kesadaran akan nikmat.
· Secara berkala mengajak anak untuk memberikan bantuan kepada ;
· mengajak anak ke Rumah Sakit, untuk melihat bagaiamana orang yang sakit sangat menderita, dan mahal biayanya, agar anak sadar betapa Tuhan mengasihi dan menyayangi dirinya melalui kesehatan yang ia terima.
Ø Mendorong anak agar banyak bergaul dengan fakir miskin.
Ø Mengajak anak selalu berdo’a untuk dirinya dan orang lain dalam segala hal.
Ø Mengajak anak menonton film dokumenter tentang bencana alam, orang cacat, perjuangan hidup dan keajaiban alam
B. Beberapa hal yang harus anda tinggalkan :
- Terlalu sering mengajak anak ke pusat perbelanjaan/ mall
- Memberikan fasilitas secara berlebihan
- Membiarkan anak bergaul hanya dengan orang-orang kaya
- Membiarkan anak mengikuti club-club hoby yang sifatnya hura – hura seperti club motor dsb.
6. Merawat Akar Spiritual, Mengenalkan ketulusan Cinta Orang Tua.
A. Hati – hati, agar anak tidak salah mengerti.
Setiap orang tua memiliki rasa cinta yang begitu tulus dan besar kepada anaknya. Itulah sebabnya mereka mau mengorbankan apa saja bahkan nyawanya demi anak. Orang tua bekerja keras dan seluruh hasilnya untuk mencukupi keperluan anak-anak; pendidikan, pakaian, makanan,uang saku, pulsa dsb. Dan untuk itu, mereka tidak mengharapkan balasan apapun dari anaknya. Kalaupun orang tua berharap ketika dewasa anaknya bisa mengirimi uang, membelikan hadiah, merawat ketika dirinya sakit, semua itu bukanlah bentuk transaksi dagang dari jasanya membesarkan anak, tapi semata harapan agar anaknya menjadi orang dewasa yang cerdas secara spiritual, pengasih, penyayang, pemurah dan penuh empati. Jikapun orang tua bahagia menerima uang dan hadiah yang diberikan anak, bukan nilai materinya yang membahagiakan, tapi karena menyhaksikan anaknya telah tumbuh menjadi pribadi dewasa yang baik, penuh perhatian, empati dan kasih kepada orang tua.
Anak anda harus memahami masalah ini! Mereka harus tahu bahwa anda begitu tulus mencintai mereka, tanpa mengaharapka balasan apa-apa darinya. Dan hal ini tidak bisa anda harapkan muncul secara otomamtis seiring dengan semakin banyaknya dia menerima cinta anda. Karena cinta anda belum tentu bisa dirasakan sebagai cinta oleh mereka. Bahkan dalam buku saya terdahulu “Negative Learning”, saya mencatat sering terjadi kesalah fahaman anak kepada orang tua, dimana ekspresi cinta orang tua, diterima sebagai tindakan yang menyiksa sehingga anak-anak menganggap orang tua tidak sayang kepadanya. Terlalu banyak mejelaskan ketulusan cinta anda dengan kata-kata juga berbahaya, karena tindakan ini justru bisa diterima sebagai bukti ketidak tulusan cinta anda. Jadi bagaimana agar anak-anak betul-betul mersakan cinta kasih anda sebagai cinta ?
B. Kwantum rasa, beberapa hal yang harus anda lakukan.
Agar anak dapat merasakan kasih sayang anda sebagai cinta, anda harus membuat ‘Kwantum Rasa’, dimana anak-anak mendapatkan lompatan perasaan, menjadi orang tua selagi masih anak-anak. Sebuah pengalaman yang dalam kondisi normal, hanya akan dirasakan ketika sudah betul –betul menjadi orang tua dalam arti yang sesungguhnya, mempunyai anak dengan segala tanggung jawab, kasih sayang dan suka dukanya.
Kwantum rasa ini bisa anda berikan melalui beberapa tindakan sebagai berikut :
Ø Membacakan kisah teladan bakti anak kepada orang tua.
Ø Membacakan kisah pengorbanan orang tua untuk anak
Ø Melibatkan anak dalam pekerjaan anda
Ø Meninggalkan anak di rumah untuk beberapa waktu, tanpa pembantu, tambahan uang dan makanan.
Ø Mengajak anak ketemu dengan orang miskin yang bekerja keras untuk anaknya
Ø Meminta orang lain (tentu saja tanpa sepengetahuan anak) untuk menceritakan betapa anda sangat cinta dan berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Ø Mengekspresikan cinta kasih anda melalui ucapan, sentuhan dan kebersamaan yang membahagiakan.
Ø Memberikan apresiasi yang tinggi pada prestasi mereka sehingga mereka merasa diperhatikan.
Ø Memberikan dukungan dan perlindungan ketika mereka membutuhkan.
Ø Dsb.
C. Beberapa hal yang harus anda hindarkan :
· Terlalu menuntut mereka untuk memahami pengorbanan anda.
o Misalnya dengan mengatakan : “ mestinya kamu tau, saya kan sudah berkorban, bekerja keras Semuanya demi kamu…jadi kamu harus…”
· Terlalu sering menceritakan kesulitan anda.
o Tindakan ini akan menimbulkan kesan anda mengeluh dan keberatan untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan mengurangi kadar cinta anda di depan anak-anak.
o Ingat, kadar cinta akan terasa berbanding terbalik dengan keluhan. Semakin besar keluhan semakin terasa kecil kadar cinta anda, sebaliknya semakin jarang mengeluh semakin terasa besar kadar cinta anda.
· Memberikan perhatian hanya ketika anak anda menghadapi masalah ‘besar’.
o Jika ini anda lakukan, anda akan kesulitan memasuki kehidupannya. Karena sesungguhnya setiap saat anak-anak pasti menghadapi masalah dan mereka membutuhkan perhatian anda. Jadi jika anda tidak pernah memberikan perhatian karena menurut anda sebenarnya masalahnya sangat kecil dan tidak perlu dipikirkan, mereka pasti sangat kecewa. Lambat tapi pasti, anak – anak akan menjauhi anda. dan sulit terbuka kepada anda, karena hati mereka tidak dekat dan tidak percaya lagi kepada anda.
Dalam situasi seperti ini anda akan kebingungan sendiri. karena rasa cinta anda mendorong untuk ikut menyelesaikan masalahnya, tetapi mereka justru menutup diri, sampai kemudian anda frustasi dan terpancing emosi. Jika keadaan ini terjadi, maka dia akan bentul- betul kecewa. Dihadapannya, anda menjadi sosok orang tua yang tidak punya cinta. Padahan anda sangat mencintai mereka.
7. Meningkatkan Kapasitas Spiritual, menggali dan mengenali potensi diri.
Dengan ‘kwantum rasa’, anda telah membuat anak merasakan kebesaran cinta kasih Tuhan dan ketulusan Kasih sayang Orang tua, sehingga akar spiritual mereka berkembang kokoh. Tetapi anda tidak boleh berhenti sampai di sini. Karena akar yang kokoh belum menjamin pohon akan tumbuh besar dan kokoh . Anda masih harus merawat batangnya, melindungi dari badai dan hama, juga memangkas tumbuhnya cabang yang menjadikan pohon tidak seimbang dan mudah tumbang.
Tentu saja seperti sudah saya jelaskan di atas, pekerjaan ini harus anda lakukan sejak awal menanam. Tidak menunggu akarnya kokoh terlebih dahulu, karena bersamaan dengan berkembangnya akar, batangnya juga berkembang, demikian juga dengan daunnya. Jadi pekerjaan ini harus anda lakukan secara simultan.
Anak – anak harus tahu bahwa anda begitu tulus mencintai mereka, tanpa mengaharapka balasan apa -apa darinya Tetapi hati-hati, terlalu banyak mejelaskan ketulusan cinta anda dengan kata – kata juga berbahaya.karena tindakan ini justru bisa diterima sebagai bukti ketidak tulusan cinta anda kepada mereka
‘Kwantum Rasa’ harus anda jalankan bersamaan dengan pengenalan fungsi potensi diri. Langkah ini sangat penting, karena dengan mengenali fungsi potensi diri, anak akan mudah menentukan ‘pilihan tindakan’. Baik tindakan untuk diri sendiri maupun tindakan untuk orang lain. Di atas saya telah menjelaskan; Insan spiritual memiliki kearifan kapan harus bersikap tegas dan kapan lemah lembut., kapan harus bicara kapan diam,kapan harus menerima- kapan harus menolak, kapan harus mengikuti kapan berjalan sendiri, kapan unjuk diri kapan berdiam diri, kapan harus memberi kapan tidak memberi, kapan harus berjuang keras kapan berlepas.Banyak orang terjatuh dalam kerugian, menyia-nyiakan kesempatan atau bahkan menemui kehancuran, karena salah dalam memilih tindakan. Seperti seorang yang akan menyeberangi sungai. Dengan sampannya dia berada di seberang sungai bersama dengan banyak orang dalam berbagai keadaan. Ada orang tua, anak-anak, pria, wanita, sehat, sakit, kuat, santai ada juga yang tergesa-gesa. Sedang sungainya berarus deras dan dalam. Dia dihadapankan pada banyak pilihan ;
Tentu saja untuk menentukan ‘pilhan tindakan’ yang tepat dia harus mempertimbangkan banyak hal; kekuatan dirinya, kekuatan sampannya, keluangan waktunya, keadaan orang-orang disekitarnya dsb. Inilah yang saya maksudkan dengan ‘pengenalan fungsi potensi diri’.
Orang yang tidak memiliki pengenalan fungsi potensi diri mungkin akan memilih tindakan ;
Dengan pilihan ini mungkin dia bisa selamat sampai seberang, tetapi orang disekitarnya menjadi tidak simpati bahkan benci kepadanya. Sehingga kedepan dia telah menutup sendiri pintu sinergi yang akan mendatangkan keuntungan berlipat dalam hidupnya.
Atau mungkin dia justru menemui kehancuran, dimana ternyata tenaganya tidak kuat untuk mendayung sampai ke seberang, sehingga sampanya hanyut, terguling dan tenggelam.
Pilihan tindakan ini didorong oleh rasa sosial (akar spiritual) yang tinggi. Tetapi dia tidak cukup memiliki pertimbangan yang matang karena kurang mengenali kekuatan (fungsi potensi) dirinya, sehingga dorongan sosialya justru berpotensi mencelakakan dirinya dan juga orang yang hendak ditolongnya.
Setelah mendayung sampai ke tengah sungai, dia mulai kelelahan, sampannya hanyut, penumpang yang seluruhnya orang-orang lemah menjadi panik sehingga sampannya bertambah oleng dan akhirnya terbalik. Semangat besarnya untuk menolong orang-orang lemah justru berujung musibah.
Hanya saja pengenalan terhadap potensi dirinya (sampan dan tenaganya) yang terbatas, memberitahukan kepada akalnya bahwa hal tersebut tidak mungkin dia lakukan secara sendirian dan segera. Karenanya untuk mewujudkan dorongan kasih sayangnya, dia kemudian melihat potensi orang lain disektarnya dan mengajak mereka untuk bekerja sama. dia membagi orang yang ada dalam kelompok-kelompok kecil yang bervariasi dan terukur kekuatan serta bebannya, sehingga semuanya bisa selamat sampai di seberang.
Ilustrasi di atas, menjelaskan kepada kita, betapa pentingnya mengenali fungsi potensi diri dan betapa berbahayanya jika anak – anak tidak mengenalinya. bahkan ketika akar spiritual mereka telah kokoh sekalipun. Karena dorongan cinta kasihnya justru bisa melahirkan tindakan yang berbahaya bukan hanya bagi dirinya tetapi juga bagi orang lain.
Jadi agar kapasitas (kemampuan) spiritual anak-anak meningkat , anda tidak hanya harus melatih mereka untuk mengenali potensi yang ada pada dirinya, tetapi juga harus melatih untuk mengenali potensi yang ada pada lingkungannya, Sehingga mereka mau dan tau cara menggunakan setiap potensi itu dengan baik.
Tujuh Langkah Menjaga Energi Spiritual Anak
a. Visi Hidup ” Saya Harus Berguna”
Agar kapasitas diri terus berkembang, anak harus memiliki energi spiritual yang terus berkobar, yang tidak padam karena terpaan badai. Bahkan setiap rintangan justru akan semakin membesarkan kobaran spiritualnya. Energi seperti ini hanya bisa terpancar dari sumber suci yang ada dalam dirinya yakni hati.
Karena itu anda harus terus mengetuk-ngetuk pintu hatinya dengan terus menggemakan visi hidup ; “ Saya harus Berguna”, sehingga pandora spiritual terbuka dan memancarkan energi luar biasa untuk terus menggali, mengenali dan mengembangkan potensi dirinya. Karena visi hidup “saya harus berguna” akan terus memantul-mantulkan energi spiritual yang dipancarkan dengan kekuatan yang berlipat. Setiap kali melakukan tindakan ‘berguna’, mata hatinya menangkap kesempatan ‘berguna’ yang lain, sehingga muncul dorongan baru untuk segera melakukannya kembali. Demikian akan terus berulang dan berkembang, tidak ada yang bisa menghentikan kecuali kematian.
b. mencermati, menanggapi dan mengarahkan pembicaraan anak,
Hal yang banyak dilupakan para orang tua adalah mencermati,menanggapi dan mengarahkan pembicaraan anak. Padahal masalah ini sangat penting karena langsung berhubungan dengan arah pemikiran anak. Bukankah perkataan merupakan ekpresi dari pemikiran ? jadi setiap saat anda harus selalu mencermati pembicaraan anak, agar setiap perkembangan pemikirannya dalam aspek apapun; sekolahnya, minatnya, pertemanannya, keagamaannya, sosialnya dsb dapat anda ketahui sejak dini,. Dan jika terdeteksi ada gejala penyimpangan, misalnya, terlalu matrialistis, cenderung meremehkan orang miskin, terlalu emosional dsb, anda bisa segera mengoreksinya. Tentu dengan cara yang baik, sehingga anak tetap merasa dihargai dan diapresiasi eksistensinya.
visi hidup ;
“ Saya harus Berguna”. Akan membuka pandora spiritual sehingga memancarkan energi luar biasa untuk terus menggali, mengenali dan mengembangkan potensi dirinya.
c. mengenalkan anak terhadap realitas lingkungan,
sangat penting untuk mengenalkan kondisi lingkungan. Karena pengenalan yang baik akan menjadikan anak bisa bersikap secara tepat terhadap lingkungannya. Mungkin anda berpikir hal ini tidak penting, karena toh kehidupan anak di masa depan tidak musti di sini. Mungkin mereka akan hidup ditempat jauh, yang lingkungan dan masyarakatnya jauh berbeda dengan lingkungannya sekarang. Sehingga tidak ada gunanya berlatih di masyarakat sekarang untuk kehidupan masyarakat yang akan datang. Pemikiran seperti ini salah besar. Karena betapapun besarnya perbedaan karakter sebuah masyarakat tetap saja masih terikat dengan nilai dasar kemanusiaan, yakni ; cinta kasih, kepedulian, penghargaan, kejujuran, etos dan kedisiplinan. Jadi dimanapun anak kelak akan hidup, di lingkungan masyarakat seperti apapun, agar bisa tentram bahagia di lingkungannya dia harus memiliki 6 nilai dasar di atas.
Anda harus mengenal kepada anak lingkungan hidupnya; Apa saja profesi meraka, berapa pegawai negerinya, berapa petaninya, berapa buruhnya, berapa pengusahanya, berapa yang tidak sekolah, berapa sarjannya, ada berapa fakir misin, orang tua dan janda harus disantuni, dsb. Karena proses mengenal lingkunggan akan membuka pandora spiritual dalam jiwanya.
d. mengarahkan perhatian dan kepedulian anak terhadap persoalan lingkungan,
Keenam Nilai Dasar Kemasyarakatan di atas, harus ditanamkan sejak sekarang dengan cara sebanyak mungkin melibatkan anak dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Anda tidak boleh mengasingkan anak dari lingkungannnya dengan alasan agar anak tidak tercemar oleh kebiasaan buruk, karena masyarakat lingkungan anda mempunya banyak kebiasaan buruk. Tindakan seperti ini justru akan menumbuhkan sifat buruk yang lebih besar lagi, yakni arogansi, egoisme dan asosial. Jadi melibatkan anak dalam kegiatan sosial lingkungan bagaimanapun keadaan lingkungan sosial anda, adalah keharusan. Tentu dengan filter dan ‘pengawalan’ anda Percayalah, dengan kawalan anda, nilai-nilai buruk yang ada tidak akan terserap. Bahkan sebaliknya akan menumbuhkan imunitas dan semangat perlawanan yang kuat (terhadap nilai – nilai buruk itu).
e. menumbuhkan agenda (cita-cita) sosial masa depan.
kebanyakan orang tua mengkonsentrasikan perhatiannya untuk mempersiapkan anak agar bisa hidup mandiri di masa depan. Mencarikan sekolah favorit, mengikutkan di banyak les, menghontrol belajarnya, semua dilakukan agar anak memiliki ketrampilan hidup sehingga bisa mendiri di masa depan. Seolah anak akan hidup sendiri tanpa orang lain. Padahal hal itu tidak mungkin terjadi. Anak anda pasti akan hidup di sebuah masyarakat dan berdampingan serta membutuhkan orang lain, sebagaimana orang lain akan membutuhkan anak anda. Jadi jika anda membekali anak hanya dengan ketrampilan hidup mandiri, sebenarnya belumlah cukup. Bahkan masih sangat kurang. karena baru sebagian kecil saja bekal yang anda berikan. Anak anda masih memerlukan bekal ketrampilan bersosial, yakni ketrampilan mengaplikasikan enam nilai dasar di atas (cinta kasih, kepedulian, penghargaan, kejujuran, etos dan kedisiplinan ) dalam masyarakat. Karena itu sejak kecil anak anda harus sudah dibiasakan untuk memiliki agenda sosial, bahkan disamping cita-cita pribadinya, anak juga harus sudah memiliki cita-cita sosial masa depan.
f. Membkasakan Anak untuk Mengendalikan Diri
Banyak orang tua yang enggan meneliti apakah anak melakukan sesuatu kegiatan karena hanya kesenangan atau karena memang memiliki kemampuan sehingga merasa senang. Mereka hanya melihat apa yang sering dilakukan anak, kemudian dianggap sebagai kesenangan anak dan kemudian secara serampangan menyimpulkan itulah kemampuan anak yang secara alamiah akan berkembang sendiri. Mereka berpikir, tanpa bimbingan, anak akan mengenali sendiri potensi dirinya dan kemudian seiring dengan masalah yang dihadapi, anak akan mengembangkan porensi itu. Padahal boleh jadi dia sering melakukan karena hanya ikut-ikutan, atau terpaksa karena ‘tekanan’ orang lain atau karena tidak ada pilihan lain. Tindakan seperti ini jelas sangat beresiko bagi perkembangan jiwa anak. Karena ibarat menyeberangi jurang yang dalam, anak akan melewati titian tanpa pegangan. Langkahnya sangat perlahan atau bahkan terjatuh ke jurang.
Sebaliknya, banyak juga orang tua otoriter, memaksa anak untuk hidup dan berkembang dalam ‘impian’ pribadinya. Mereka memaksa anak untuk berkembang di dunia yang dianggapnya paling baik. walaupun sesungguhnya bertentangan dengan minat dan potensi yang dimilikinya. Sikap seperti inipun sama buruknya. Karena jiwa anak akan selalu tertekan sehingga sulit mengembangkan rasa kasih sayang. Padahal kasih sayang adalah sumbu dari kecerdasan spiritual.
Karenannya membedakan kesenangan dengan kemampuan anak, serta membiasakan mereka melakukan kegiatan bukan hanya berdasarkan pada kesenangan, tetapi lebih pada kemampuan dan manfaat sangatlah penting. Sejak dini anak harus dilatih untuk mengendalikan hidupnya. Bisa meninggalkan kesenangannya karena ada hal yang lebih penting, atau total melakukannya karena memang dibutuhkan.
g. Mengajak anak untuk Instropeksi Diri.
Seperi dua sisi mata uang, visi “saya harus berguna” kan selalu membawa ‘rasa malu jika tidak berguna’. Dua perasaan ini satu sama lain saling menjadi efek balik. Oleh karenanya untuk mempertajam visi ‘saya harus berguna’ dalam diri anak juga harus selalu ditanamkan perasaan ‘malu jika tidak berguna’.
Untuk menanamkan perasaan ‘malu’ ini, anda harus mengajak anak-anak untuk selalu menginstropeksi diri, terutama dalam hal amal baiknya kepada orang lain. Jangan pernah lewatkan satu haripun tanpa pertanyaan kepada anak anda : “ hari ini, amal baik apa yang telah kamu lakukan untuk orang ?”

Tinggalkan Balasan